80 Juta Sebulan! Deddy Yevri Sitorus Bicara Soal DPR vs Rakyat

​Deddy Yevri Hanteru Sitorus, seorang politikus dari PDI Perjuangan, telah menjadi sorotan publik menyusul pernyataannya mengenai perbandingan gaji anggota DPR dengan masyarakat umum.

80 Juta Sebulan! Deddy Yevri Sitorus Bicara Soal DPR vs Rakyat

Pernyataan ini menimbulkan perdebatan luas di media sosial dan memicu berbagai tanggapan dari warganet. ​Kontroversi ini berpusat pada perbandingan pendapatan anggota dewan yang signifikan dengan penghasilan masyarakat. Khususnya mereka yang bergaji setara UMR.

Dibawah ini anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran VIEWNEWZ.

nonton gratis piala dunia 2026 STADIONLIVE
LIVE STREAMING WORLD CUP 2026

Asal Mula Kontroversi Gaji DPR vs. Rakyat

​Kontroversi ini berawal dari sebuah potongan video yang tersebar luas di media sosial. Menampilkan Deddy Sitorus saat menjadi narasumber dalam sebuah acara talkshow di Metro TV. Berjudul “DPR di Periode Baru” pada 10 Oktober 2024. ​

Dalam acara tersebut, Zilvia Iskandar, pembawa acara senior Metro TV. Membandingkan pendapatan bersih anggota DPR yang berkisar antara Rp50 juta hingga Rp65 juta per bulan dengan rencana pemotongan gaji pekerja UMR sebesar 3% untuk Tapera. ​

Zilvia juga menyinggung isu tunjangan perumahan anggota DPR yang diperkirakan mencapai Rp50 juta sebulan. Serta uang pensiun seumur hidup.

​Ketika Zilvia menanyakan apakah tidak ada kontras antara pendapatan DPR dengan apa yang didapatkan rakyat. Deddy Sitorus memberikan respons yang memicu kemarahan publik. ​Ia menyatakan bahwa membandingkan gaji DPR dengan “rakyat jelata” atau “buruh” adalah “sesat logika”.

Deddy menegaskan bahwa seharusnya pendapatan anggota DPR dibandingkan dengan direksi BUMN, menteri. Atau direktur jenderal bukan dengan pegawai UMR. ​

Pernyataan ini kemudian dipotong dan disebarluaskan di media sosial. Menciptakan narasi negatif yang menggambarkan Deddy sebagai wakil rakyat yang tidak ingin dibandingkan dengan rakyat jelata dan tidak peka terhadap kondisi ekonomi masyarakat.

Ayo Kawal Timnas Menuju Piala Dunia - Link Aplikasi Nonton Timnas Indonesia GRATIS! Segera download! APLIKASI SHOTSGOAL

apk shotsgoal  

Karir Politik Deddy Sitorus

​Deddy Yevri Hanteru Sitorus lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada 17 November 1970, ​Ia memiliki latar belakang pendidikan yang cukup mumpuni menamatkan pendidikan dasar hingga SMA di Pematangsiantar.

​Deddy meraih gelar Sarjana Pertanian dari Universitas Simalungun pada tahun 1996. ​Kemudian, ia melanjutkan studinya ke Inggris dan memperoleh gelar Master of Arts di bidang Political Communication, Advocacy & Campaigning dari Kingston University pada tahun 2006.

​Sebelum berkiprah di dunia politik praktis. Deddy Sitorus dikenal sebagai seorang aktivis sosial, buruh, dan lingkungan. ​Ia merupakan salah satu pendiri dan presidium di berbagai organisasi masyarakat sipil, termasuk Koalisi Anti Utang (2000-2001) dan Komunitas Aksi Solidaritas Buruh Indonesia (1998-2000).

​Di Senayan, ia awalnya duduk di Komisi VI yang membidangi perdagangan, investasi, dan BUMN. ​Pada Pemilu 2024, Deddy kembali dipercaya masyarakat Kalimantan Utara dengan perolehan suara yang lebih besar.

Yakni 59.335 suara, dan saat ini menjabat sebagai anggota Komisi II DPR. ​Selain itu, Deddy juga dipercaya sebagai Ketua DPP PDI Perjuangan.

Baca Juga: Bupati Sudewo Kembalikan Uang Dari Hasil Korupsi, Hukum Pidana Tetap Berjalan!

Isu Gaji DPR dan Perbandingan Dengan Rakyat

Isu Gaji DPR dan Perbandingan Dengan Rakyat

Dalam video yang memicu kontroversi. Presenter Zilvia Iskandar mengangkat isu perbedaan nasib antara anggota DPR yang mendapat fasilitas rumah dinas dengan masyarakat pekerja yang diwajibkan membayar iuran Tapera. ​

Sebelum bertanya kepada Deddy Sitorus. Zilvia memperlihatkan data pendapatan bersih anggota DPR yang berkisar antara 50 juta hingga 65 juta sebulan. ​Angka ini diperkirakan akan naik lagi setelah rencana tunjangan perumahan disahkan. ​Kemudian, muncul visual pembanding berupa potongan berita berjudul “Siap-siap! Gaji pekerja di atas UMR dipotong 3% untuk Tapera”.

​Deddy Sitorus mengklaim bahwa sebelum masuk DPR pada tahun 2000-an. Gajinya sudah mencapai Rp80 juta. Sementara sekarang sebagai anggota DPR, gajinya “cuma” Rp51 juta. ​Ia menyatakan bahwa gaji anggota DPR memang tidak bisa disamakan dengan masyarakat dengan penghasilan setara UMR.

Kinerja DPR dan Opini Publik

Besarnya gaji dan tunjangan anggota DPR, terutama tunjangan rumah Rp50 juta, menuai kritik tajam dari publik. Masyarakat menilai kebijakan ini berlebihan dan tidak sejalan dengan kondisi ekonomi rakyat yang sedang kesulitan.

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Egi Primayogha, menyebut bahwa keputusan ini “tidak patut” mengingat banyaknya persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, pajak, dan angka pemutusan hubungan kerja (PHK).

Selain itu, tunjangan yang besar ini juga dinilai tidak sepadan dengan kinerja DPR yang seringkali dianggap kurang memuaskan. Tingkat kehadiran anggota parlemen dalam rapat kerap kali rendah, sehingga pembahasan legislasi sering terhambat. Survei Indikator Politik Indonesia pada Januari 2025 menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap DPR hanya 69%. Menempatkannya di peringkat ke-10 dari 11 lembaga.

DPR dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) saling melempar tanggung jawab terkait penetapan besaran tunjangan rumah ini. Dirjen Anggaran Kemenkeu, Luky Alfirman, meminta agar pertanyaan dialamatkan ke DPR, sementara Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun. Menyatakan bahwa keputusan terkait nilai tunjangan berasal dari Menteri Keuangan.

Tanggapan Deddy Sitorus Terhadap Kritik

Menanggapi kritik yang muncul. Deddy Sitorus memberikan klarifikasi melalui akun media sosialnya. Ia menjelaskan bahwa pernyataan yang disampaikan dalam wawancara tersebut telah dipotong dan disebarkan tanpa konteks yang lengkap.

Deddy menegaskan bahwa ia tidak bermaksud merendahkan masyarakat berpenghasilan rendah. Melainkan ingin menjelaskan perbedaan konteks antara penghasilan anggota DPR dan masyarakat umum. Ia juga mengajak publik untuk lebih bijak dalam menilai suatu pernyataan dengan memperhatikan konteks secara utuh.

Manfaatkan juga waktu anda untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi tentang semua informasi viral terupdate lainnya hanya di VIEWNEWZ.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari monitor.co.id
  • Gambar Kedua dari tirto.id

Similar Posts