Situasi Memanas di Rafah, Faksi Hamas Dikabarkan Tidak Mundur
Situasi di Rafah, wilayah paling selatan di Jalur Gaza, tengah mengalami peningkatan ketegangan yang signifikan.

Setelah rangkaian serangan dan operasi militer di beberapa bagian Gaza, Rafah menjadi kawasan yang disebut sebagai titik terakhir konsentrasi kelompok Hamas.
Meski berada dalam kondisi semakin terdesak dan terbatas secara logistik, laporan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa faksi Hamas di wilayah ini tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur.
Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran VIEWNEWZ.
Sejarah Konflik yang Membentuk Ketegangan
Untuk memahami mengapa anggota Hamas tetap bertahan, perlu melihat bagaimana konflik di Gaza terbentuk. Sejak pertengahan abad ke-20, kawasan Palestina mengalami perubahan geopolitik yang dramatis.
Perebutan wilayah, perpindahan penduduk, dan klaim identitas historis memicu rangkaian konflik antara Israel dan kelompok-kelompok Palestina. Hamas sebagai organisasi politik sekaligus kelompok bersenjata lahir pada akhir 1980-an.
Bagi sebagian orang Palestina, Hamas dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap pendudukan. Namun bagi Israel, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sejumlah negara lain, Hamas diklasifikasikan sebagai kelompok teroris karena taktik pertempuran dan serangan roket yang mengorbankan warga sipil.
Ketegangan ini terus meningkat selama beberapa dekade terakhir. Jalur Gaza menjadi wilayah yang padat penduduk namun terbatas akses ekonomi dan mobilitas.
Kondisi ini menciptakan tekanan sosial, ekonomi, dan politik yang memperuncing rasa ketidakadilan. Situasi yang terakumulasi itulah yang membentuk sikap keras dari kedua belah pihak.
Ayo Kawal Timnas Menuju Piala Dunia - Link Aplikasi Nonton Timnas Indonesia GRATIS! Segera download! APLIKASI SHOTSGOAL
![]()
Rafah Sebagai Wilayah Terakhir yang Kritis
Rafah memiliki posisi strategis yang sangat penting. Kota ini berada di antara Gaza dan Mesir, sehingga menjadi satu-satunya akses keluar yang tidak sepenuhnya berada di bawah kontrol Israel.
Terowongan bawah tanah yang pernah ada di kawasan Rafah menjadi jalur penyelundupan kebutuhan dasar, obat-obatan, bahan bangunan, hingga persenjataan pada masa-masa tertentu.
Karena itulah, ketika operasi militer Israel semakin intens ke utara dan tengah Gaza, para anggota Hamas yang masih tersisa diperkirakan bergerak menuju Rafah.
Di mata mereka, Rafah bukan hanya tempat persembunyian, tetapi wilayah yang menyimpan harapan untuk bertahan.
Sementara itu, warga sipil yang jumlahnya ratusan ribu orang juga mengungsi ke Rafah demi mencari perlindungan. Kondisi ini membuat kota yang seharusnya menjadi tempat aman berubah menjadi zona rawan.
Baca Juga: Gencatan Senjata Gaza Resmi Disepakati, Trump Sambut Dengan Pujian
Mengapa Hamas Disebut Tidak Akan Menyerah

Pernyataan mengenai tidak menyerahnya Hamas bukan hanya tentang strategi militer, tetapi juga menyentuh ideologi, identitas, dan perasaan kolektif kelompok tersebut.
Bagi para anggotanya, perang bukan sekadar konflik fisik melainkan simbol perjuangan mempertahankan tanah yang mereka anggap hak historis bangsa Palestina. Keyakinan ini telah tertanam selama bertahun-tahun dan diwariskan antar generasi.
Selain itu, kelompok tersebut memahami bahwa jika mereka menyerah, struktur politik yang selama ini mereka kuasai di Gaza akan runtuh sepenuhnya.
Hamas telah lama memegang kendali administratif atas Gaza, mengatur pemerintahan lokal, pengelolaan layanan masyarakat, hingga institusi sosial. Kekalahan total bukan hanya kekalahan militer, tetapi juga berakhirnya pengaruh politik dan sosial.
Tekanan internasional juga mempengaruhi situasi. Meskipun banyak negara mengecam kekerasan, dukungan moral terhadap Palestina secara umum tetap kuat di sejumlah kawasan dunia.
Hal ini memperkuat keyakinan para anggota Hamas bahwa perjuangan mereka masih memiliki legitimasi dalam narasi global tertentu, meskipun pandangan dunia terhadap metode dan tindakan mereka sangat beragam.
Dampak Kemanusiaan yang Terus Membesar
Konflik yang berlarut-larut membawa dampak terbesar kepada warga sipil. Di Rafah, kondisi kesehatan memburuk drastis, fasilitas medis terbatas, dan pasokan kebutuhan pokok tidak mencukupi.
Banyak keluarga kehilangan rumah, anggota keluarga, dan sumber mata pencaharian. Anak-anak menjadi pihak yang paling rentan karena trauma, kurang gizi, dan tidak adanya akses pendidikan stabil.
Masyarakat internasional telah menyerukan gencatan senjata berkali-kali, namun kesepakatan sering kali gagal. Selama konflik berlanjut, warga sipil akan terus berada dalam posisi paling menderita.
Situasi inilah yang mendorong organisasi kemanusiaan untuk mempercepat bantuan, meski akses dan keamanan lapangan sering kali menghambat.
Simak dan ikuti terus berbagai informasi berita-berita terbaru dan update menarik lainnya hanya di VIEWNEWZ.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari www.metrotvnews.com
- Gambar Kedua dari www.antaranews.com

