Gawat! Kapal Pertamina ‘Terjebak’ di Hormuz, RI Lobi Iran Diam-Diam!
Situasi memanas di Selat Hormuz membuat kapal Pertamina tertahan, memicu lobi senyap pemerintah Indonesia ke Iran.
Dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) tertahan di Teluk Arab karena tak bisa melintasi Selat Hormuz akibat aturan Iran. Pemerintah mengkhawatirkan kondisi ini akan mengganggu pasokan energi Indonesia. Pemerintah Indonesia dan Iran kini membahas solusi agar kapal dapat melintas dengan aman.
Dapatkan kabar penting, inspiratif, dan bermanfaat dari dalam dan luar negeri, eksklusif di VIEWNEWZ, teman setia menambah wawasan Anda.
Kapal Pertamina Yang Tertahan di Teluk Arab
Dua kapal, Pertamina Pride dan Gamsunoro, saat ini mengalami kendala perjalanan (terjebak), yang mana PT Pertamina International Shipping (PIS) mengoperasikan keduanya. PT PIS menggunakan Pertamina Pride untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, sedangkan Gamsunoro melayani distribusi energi untuk pihak ketiga.
Sejak awal Maret 2026, kedua kapal tersebut belum dapat melintasi Selat Hormuz menuju tujuan masing‑masing. Kondisi ini membuat Pertamina terus memantau pergerakan dan keamanan kapal melalui koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga memantau bahwa keberadaan kapal tersebut di Teluk Arab berpotensi memengaruhi waktu kedatangan pasokan BBM ke Indonesia. Namun demikian, Pertamina menyatakan belum ada gangguan suplai yang berarti hingga saat ini.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Aturan Ketat Iran di Selat Hormuz
Pemerintah Iran memberlakukan aturan ketat bagi kapal yang ingin melintasi Selat Hormuz, khususnya yang dianggap “bermusuhan” dengan Teheran. Melalui perwakilannya di International Maritime Organization (IMO), Iran menyatakan bahwa jalur perairan sempit itu tetap terbuka untuk pelayaran internasional, tetapi dengan syarat ketat.
Pemerintah Teheran menyampaikan salah satu syarat bahwa pihaknya tidak boleh menganggap kapal tersebut mendukung agresi Amerika Serikat atau Israel terhadap Iran. Kapal juga tidak boleh melakukan aktivitas yang Iran anggap menyerang kepentingan atau keamanan nasional mereka.
Ketentuan ini membuat sejumlah kapal asing, termasuk yang berasal dari negara ketiga, harus melalui proses verifikasi sebelum diperbolehkan melintasi selat. Bagi Indonesia, yang mengklaim netral dalam konflik regional, kondisi ini memaksa diplomasi intensif agar kapal Pertamina tidak tergolong “bermusuh” dalam pandangan Iran.
Baca Juga: Pemkot Bogor Bakal Terapkan WFH Tiap Kamis! Tapi Masih Tunggu Persetujuan
Langkah Diplomasi Indonesia Dengan Iran
Kementerian Luar Negeri RI mengonfirmasi bahwa pemerintah Iran sudah memberikan respons positif terhadap permintaan Indonesia agar mengizinkan dua kapal Pertamina melintas dengan aman. Pihak Kemlu menyebut bahwa mereka kini memfokuskan diskusi pada aspek teknis dan operasional lintasan melalui Selat Hormuz.
Berbagai pihak melaporkan bahwa KBRI Teheran telah melakukan koordinasi intensif dengan otoritas Iran, termasuk lembaga maritim dan pihak keamanan. Kementerian menyatakan bahwa pihak berwenang secara berkala memperbarui status kedua kapal melalui komunikasi langsung dengan otoritas Iran.
Dalam konteks ini, Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk tetap netral dan tidak mengambil sisi dalam konflik regional. Pemerintah berharap Iran membuka saluran yang lebih jelas bagi kapal‑kapal sipil non‑militer, termasuk kapal komersial Indonesia, agar tidak terhambat di jalur laut strategis tersebut.
Kesiapan Teknis Dan Operasional Untuk Melintas
Pertamina International Shipping (PIS) bersama Kementerian Luar Negeri kini tengah mematangkan prosedur teknis agar Pertamina Pride dan Gamsunoro bisa melintasi Selat Hormuz dengan aman. Pihak PIS mengakui bahwa langkah ini membutuhkan penyesuaian itinerary, rute, dan protokol komunikasi dengan otoritas Iran selama di selat.
Dalam tahap teknis ini, Pertamina mengevaluasi kecepatan kapal, jadwal transit, serta koordinasi dengan kapal pengawal atau otoritas pantai sesuai persyaratan yang diajukan Iran. Pihak perusahaan juga bekerja sama dengan maskapai asuransi dan otoritas maritim nasional untuk memastikan kepatuhan pada aturan internasional sekaligus meminimalkan risiko.
Pemerintah berharap langkah teknis ini menjadi ‘jalan keluar’ yang tetap menjaga keamanan awak kapal dan integritas muatan. Jika pihak berwenang memberikan persetujuan dan menuntaskan prosedur. Dua kapal Pertamina itu dapat segera melanjutkan perjalanan untuk mengisi kembali rantai pasok energi ke Indonesia.
Dapatkan semua berita viral, trending, dan update terpanas, langsung di VIEWNEWZ, pusat informasi terkini hanya untuk Anda.
- Gambar Pertama dari: scrollberita.com
- Gambar Kedua dari: nasional.kompas.com
