Iran Ajukan Gencatan Senjata ke AS Lewat Pakistan, Ternyata Ini Syaratnya!
Iran akhirnya buka suara soal proposal gencatan senjata dengan Amerika Serikat melalui Pakistan, namun mengajukan sejumlah syarat penting.
Iran kembali mengirim proposal gencatan senjata baru ke Amerika Serikat melalui jalur diplomatik Pakistan. Langkah ini dilakukan di tengah ketegangan militer di Selat Hormuz dan sanksi ekonomi yang masih berlaku. Teheran ingin memperpanjang gencatan senjata jangka pendek menjadi de‑eskalasi jangka panjang, tetapi dengan syarat‑syarat yang cukup ketat bagi Washington.
Dapatkan kabar penting, inspiratif, dan bermanfaat dari dalam dan luar negeri, eksklusif di VIEWNEWZ, teman setia menambah wawasan Anda.
Proposal Baru Lewat Jalur Pakistan
Pemerintah Iran mengirim proposal gencatan senjata baru ke AS melalui jalur diplomatik di Islamabad. Pakistan bertindak sebagai mediator yang meneruskan draft kesepakatan dari Teheran ke Washington. Jalur ini memanfaatkan saluran khusus yang sebelumnya sempat mengakomodasi gencatan senjata sementara di Selat Hormuz.
Proposal mencakup perpanjangan gencatan senjata dan skema jaminan agar konflik tidak pecah lagi. Iran bersedia kembali membuka Selat Hormuz secara penuh, tetapi menolak menjadikan program nuklir sebagai prioritas utama di awal perundingan. Dengan demikian, Teheran ingin menyelesaikan isu ekonomi dan keamanan maritim terlebih dahulu.
Kehadiran Pakistan sebagai kurir diplomatik menunjukkan keterbatasan kepercayaan langsung antara Iran dan AS. Islamabad memposisikan diri sebagai penjaga proses, bukan pengambil keputusan. Dalam konteks ini, Iran tetap memegang kendali substansi proposal yang mereka sampaikan ke Washington lewat Islamabad.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Isi Utama Proposal Iran kepada AS
Dalam proposal barunya, Iran menawarkan penghentian konflik jangka panjang, bukan hanya gencatan senjata sementara. Teheran bersedia membuka kembali Selat Hormuz tanpa pembatasan besar, asal kehadiran militer AS tidak dijadikan alat tekanan politik. Hal ini dapat mengurangi ketegangan logistik global dan mempercepat aktivitas pelayaran dagang.
Iran juga mengusulkan penarikan bertahap pasukan AS dari sejumlah titik kunci di Teluk, dengan imbalan jaminan tidak menggenjot aktivitas pengayaan uranium selama gencatan senjata berlaku. Namun AS menilai detail teknis pembatasan program nuklir dalam draft masih terlalu samar. Dari pandangan Washington, itu bukan kemajuan signifikan dalam pengendalian kapasitas nuklir Iran.
Proposal ini juga menuntut pelonggaran atau pencabutan sebagian besar sanksi ekonomi kritis terhadap sektor energi dan perbankan Iran. Teheran mengaitkan jaminan keterbukaan di masa depan dengan ruang gerak ekonomi sekarang. Dari sisi AS, tawaran ini dianggap berani, tetapi belum sepenuhnya memenuhi harapan untuk menekan program nuklir secara lebih ketat.
Baca Juga: Geger! Waka DPR Soroti Kasus Kekerasan Daycare Yogyakarta, Minta Diusut Tuntas
Syarat Agar Negosiasi Berlanjut
Iran menegaskan negosiasi hanya akan berlanjut bila AS tidak lagi menggunakan ancaman militer sebagai tekanan politik. Dalam internal Teheran, parlemen dan pihak keamanan menekankan bahwa diskusi formal di Pakistan harus berjalan tanpa ultimatum publik dari Washington. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf menyebut bahwa negosiasi di bawah tekanan tidak akan direspons serius.
Kedua pihak juga menuntut jaminan keamanan masing‑masing selama de‑eskalasi. Iran ingin penghentian operasi intelijen dan sabotase di fasilitas strategisnya, sementara AS menuntut jaminan tidak ada serangan militer atau peluncuran rudal di luar batas tetangga. Kompromi diusulkan melalui komite pemantau bersama yang menggandeng pihak ketiga, termasuk Pakistan dan negara kawasan lainnya.
Syarat penting lainnya mencakup penundaan pembahasan nuklir sebagai prioritas utama. Iran ingin isu Selat Hormuz, perdagangan, dan jalur pelayaran dibahas lebih dulu. Teheran menilai meredakan ketegangan militer dan ekonomi dapat membuka ruang untuk kembali ke negosiasi nuklir. Namun, AS khawatir langkah ini bisa melemahkan posisinya di tengah tekanan domestik terkait program nuklir Iran.
Dampak Terhadap Stabilitas Timur Tengah
Proposal gencatan senjata baru ini bisa menjadi jembatan ke arah stabilitas di Timur Tengah jika diterima dalam bentuk terstruktur. Keterbukaan Iran terhadap kembali aktif di Selat Hormuz berpotensi mengurangi lonjakan harga energi global dan menurunkan risiko konflik kapal dagang. Dengan jalur laut kembali aman, volume perdagangan minyak dari Teluk bisa pulih ke level sebelum ketegangan militer.
Bagi Pakistan, peran sebagai mediator ini memperkuat posisinya di kancah diplomatik regional. Baik Washington maupun Teheran mengharapkan Islamabad menjadi penjaga jalur komunikasi yang netral. Dalam hubungan dengan AS, posisi ini menambah nilai tawar Pakistan di tengah dialog keamanan dan kerja sama ekonomi yang sedang berkembang.
Dari sisi ekonomi global, keberhasilan proposal ini dapat mengurangi volatilitas pasar yang sempat terguncang ketegangan AS‑Iran. Namun karena ketidakpercayaan antara kedua kubu masih tinggi, banyak pihak mengharapkan adanya mekanisme pengawasan ketat dan penangguhan sanksi yang nyata. Jika gagal, dunia kembali berisiko menyaksikan perang saling serang sanksi dan tekanan militer di kawasan Teluk.
Dapatkan semua berita viral, trending, dan update terpanas, langsung di VIEWNEWZ, pusat informasi terkini hanya untuk Anda.
- Gambar Pertama dari news.detik.com
- Gambar Kedua dari scrollberita.com
