Jarang Terjadi! Warga China Demo Besar-Besaran Turun ke Jalan, Ada Apa Sebenarnya?
Warga China baru-baru ini menggelar demo besar-besaran, sebuah kejadian langka di negara tersebut, terutama di kota Jiangyou.

Selain itu, aksi serupa juga dipicu oleh kebijakan ketat “nol-COVID” pemerintah dan insiden kebakaran fatal di Urumqi, Xinjiang. Protes ini, yang mencakup seruan untuk pengunduran diri Presiden Xi Jinping, menandai gelombang pembangkangan sipil yang tidak biasa di China. Dibawah ini anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran VIEWNEWZ.
Latar Belakang Kebijakan Nol-COVID
Kebijakan “nol-COVID” China, yang bertujuan untuk memberantas semua wabah virus dan mempertahankan kontrol perbatasan yang ketat. Telah diterapkan secara agresif sejak awal pandemi. Kebijakan ini mencakup penguncian massal, pengujian COVID-19 yang ketat, dan pembatasan pergerakan yang luas.
Meskipun strategi ini sempat berhasil mengendalikan penyebaran virus pada tahap awal. Penerapannya yang berkepanjangan dan ketat telah menimbulkan frustrasi mendalam di kalangan masyarakat. Banyak warga terkurung di rumah tanpa bisa bekerja, menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dan menghadapi pembatasan yang tiba-tiba dan tanpa peringatan. Data dari Komisi Kesehatan Nasional China pada 26 November 2022 menunjukkan rekor tertinggi kasus COVID-19 baru, dengan 40.347 penularan, yang semakin memicu gelombang protes.
Ayo Kawal Timnas Menuju Piala Dunia - Link Aplikasi Nonton Timnas Indonesia GRATIS! Segera download! APLIKASI SHOTSGOAL
![]()
Insiden Kebakaran Fatal di Urumqi
Pemicu langsung demonstrasi besar-besaran ini adalah insiden kebakaran pada 24 November 2022. Di sebuah gedung apartemen bertingkat tinggi di Urumqi, ibu kota wilayah Xinjiang, yang menewaskan 10 orang dan melukai 9 lainnya. Wilayah Xinjiang telah berada di bawah penguncian ketat selama tiga bulan pada saat itu.
Banyak warga menuduh bahwa langkah-langkah penguncian di sekitar gedung yang terbakar mencegah petugas pemadam kebakaran mencapai gedung tepat waktu. Sementara yang lain marah atas respons pemerintah yang menyalahkan korban yang berhasil lolos dari kobaran api. Insiden ini memanaskan kembali kemarahan warga dan memicu protes di Xinjiang, menuntut diakhirinya penguncian wilayah.
Baca Juga: Banjir Bandang Menerjang Uttarakhand India, 4 Orang Dinyatakan Tewas!
Penyebaran dan Sifat Demonstrasi

Demonstrasi tidak hanya terjadi di Urumqi tetapi juga menyebar dengan cepat ke kota-kota besar lainnya di seluruh China, termasuk Shanghai, Beijing, Nanjing, Wuhan, dan Chengdu. Protes ini menjadi gelombang pembangkangan sipil yang belum pernah terjadi sebelumnya di China daratan sejak Presiden Xi Jinping mengambil alih kekuasaan satu dekade lalu.
Para pengunjuk rasa menyanyikan lagu kebangsaan China dengan lirik “Bangkitlah, mereka yang menolak menjadi budak!” dan meneriakkan slogan-slogan seperti “Akhiri penguncian!” dan “Kami tidak ingin masker, kami ingin kebebasan”.
Di Shanghai, beberapa pengunjuk rasa bahkan secara terbuka mengkritik kepemimpinan Partai Komunis China dan menyerukan pengunduran diri Xi Jinping dengan teriakan “Turunkan Partai Komunis China, turunkan Xi Jinping”.
Respons Pemerintah dan Penindakan
Menanggapi gelombang protes ini, pemerintah China mulai bereaksi untuk memadamkan demonstrasi. Polisi mulai melakukan penyelidikan terhadap individu yang terlibat, dengan petugas memenuhi jalan-jalan kota dan meminta pengunjuk rasa untuk datang ke kantor polisi guna memberikan catatan tertulis tentang kegiatan mereka.
Beberapa laporan juga menyebutkan adanya pemeriksaan telepon genggam untuk mencari aplikasi VPN dan Telegram yang diblokir. Yang digunakan oleh para pengunjuk rasa untuk berkomunikasi. Aksi penangkapan juga terjadi, seperti di Shanghai di mana satu bus penuh demonstran dibawa pergi oleh polisi.
Meskipun ada janji untuk menindak tegas, revisi Undang-Undang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular pada April 2025 menunjukkan upaya untuk membatasi penggunaan pembatasan yang paling parah dan menyeimbangkan antara pengendalian epidemi dan pembangunan sosial ekonomi.
Reaksi Internasional dan Kekhawatiran
Demonstrasi di China juga menarik perhatian internasional, dengan aksi solidaritas dan protes yang diadakan di berbagai kota di luar negeri, termasuk Taipei, Tokyo, London, Brisbane, Paris, dan Amsterdam. Komunitas internasional mengamati perkembangan ini dengan cermat.
Terutama mengingat sifat penindasan pemerintah China terhadap perbedaan pendapat. Pemerintah China sendiri telah mengeluarkan imbauan kepada warganya di Los Angeles untuk mengambil tindakan pencegahan. Saat terjadi kerusuhan di sana pada Juni 2025, yang dipicu oleh penggerebekan imigran secara besar-besaran.
Kesimpulan
Warga China demo besar-besaran merupakan cerminan dari akumulasi frustrasi publik terhadap kebijakan “nol-COVID” yang ketat dan insiden tragis seperti kebakaran di Urumqi. Meskipun pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk menindak protes.
Tingkat kemarahan publik yang belum pernah terjadi sebelumnya menunjukkan tantangan signifikan bagi kepemimpinan China. Insiden ini menyoroti dampak kebijakan domestik terhadap stabilitas sosial dan pentingnya respons pemerintah yang seimbang terhadap aspirasi masyarakat.
Simak dan ikuti terus jangan sampai ketinggalan informasi terlengkap hanya di VIEWNEWZ.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari www.ranahriau.com
- Gambar Kedua dari www.bbc.com

