Iran Batasi 12 Kapal per Hari di Selat Hormuz, Tarif Tembus Rp34 Miliar per Tanker!
Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Iran membatasi hanya 12 kapal yang dapat melintas setiap hari.
Kebijakan ini juga disertai rencana tarif tinggi hingga Rp34 miliar per kapal tanker, yang memicu kekhawatiran global. Selat Hormuz sebagai jalur vital minyak dunia berpotensi mengalami gangguan besar terhadap perdagangan energi internasional.
Simak informasi terbaru dan terviral lainnya yang akan di bahas dengan detail hanya ada diĀ VIEWNEWZ.
Iran Siapkan Aturan Ketat di Selat Hormuz, Dunia Waspada
Otoritas Iran dilaporkan menyiapkan kebijakan baru untuk memperketat lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur strategis yang menjadi salah satu rute energi terpenting dunia itu rencananya hanya akan mengizinkan maksimal 12 kapal melintas setiap hari.
Otoritas terkait menerapkan kebijakan ini sebagai langkah untuk memperketat pengawasan aktivitas maritim di wilayah yang sering menjadi titik panas geopolitik. Pembatasan tersebut diperkirakan berdampak signifikan pada arus perdagangan internasional, terutama minyak dan gas.
Selain pembatasan jumlah kapal, Iran juga menekankan bahwa setiap kapal yang melintas wajib melalui prosedur keamanan yang lebih ketat. Hal ini menambah kekhawatiran pelaku industri pelayaran global terhadap kelancaran distribusi energi dunia.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
š„ Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
š² DOWNLOAD SEKARANG
Tarif Transit Fantastis Capai Rp34 Miliar per Tanker
Berdasarkan laporan Antara, pihak berwenang memberlakukan kebijakan tersebut dan mewacanakan pengenaan biaya transit yang sangat tinggi. Otoritas memberlakukan tarif hingga 2 juta dolar AS atau sekitar Rp34,2 miliar pada setiap kapal tanker raksasa untuk setiap lintasan.
Besarnya biaya ini meningkatkan tekanan pada perusahaan pelayaran internasional. Banyak operator kapal menghitung ulang biaya operasional mereka jika kebijakan tersebut diberlakukan secara penuh.
Para analis menyebut langkah ini dapat menjadi salah satu biaya lintas termahal di dunia maritim. Kondisi tersebut berpotensi berdampak langsung pada harga energi global akibat naiknya biaya distribusi minyak dan gas.
Baca Juga:Ā BREAKING! Iran Murka, Sebut Tuntutan AS Gila, Negosiasi Gagal Total
Negosiasi Intensif di Tengah Ketegangan Maritim
Menghadapi kebijakan tersebut, para pemilik kapal dari berbagai negara melakukan negosiasi intensif dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Tujuannya adalah untuk memastikan mereka tetap dapat memperoleh akses melintas di jalur strategis tersebut.
Negosiasi ini berlangsung di tengah situasi yang sensitif, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan energi dunia. Banyak pihak berharap adanya kesepakatan yang dapat menjaga kelancaran lalu lintas kapal tanpa mengganggu stabilitas pasar global.
Dalam ketentuan yang beredar, otoritas Iran mewajibkan kapal yang memperoleh izin untuk mematuhi rute khusus yang telah ditetapkan. Selain itu, seluruh armada juga harus melengkapi dokumen perizinan resmi sebelum memasuki wilayah perairan tersebut.
Geopolitik Memanas, Dunia Energi Ikut Terguncang
Dinamika di Selat Hormuz terjadi di tengah perkembangan geopolitik yang melibatkan sejumlah negara besar. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata berdurasi dua pekan dengan Iran pada Rabu (8/4) malam.
Namun, situasi kembali memanas setelah sejumlah perkembangan di kawasan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sempat menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata tersebut.
Perkembangan konflik di wilayah lain, termasuk serangan besar Israel ke Lebanon, kemudian mengubah kesepakatan itu dengan cepat. Iran menegaskan bahwa konflik tersebut juga harus masuk dalam cakupan perjanjian gencatan senjata, sehingga situasi kembali dinamis dan penuh ketidakpastian.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari kompas.tv
- Gambar Kedua dari kabarbandung.pikiran-rakyat.com
