Israel Punya Rencana Besar untuk Iran, Tapi Erdogan Disebut Jadi Penghalang

Israel sempat menyiapkan skenario mengguncang pemerintahan Iran, dibahas Netanyahu dengan Trump pada Februari 2026, tetapi Erdogan menolak peran langsung Kurdi.

Israel Punya Rencana Besar untuk Iran, Tapi Erdogan Disebut Jadi Penghalang

Menurut laporan The Telegraph, Netanyahu ingin memanfaatkan kelompok Kurdi di Irak untuk membuka front baru di wilayah barat Iran. Rencana itu melibatkan Mossad dan CIA serta membutuhkan dukungan udara Amerika Serikat. Simak ulasan lengkapnya dari VIEWNEWZ.

NONTON GRATIS LIVE STREAMING STADIONLIVE
NONTON GRATIS LIVE STREAMING SHOTSGOAL

Netanyahu Bawa Skenario Berani untuk Mengguncang Teheran

Dalam skenario tersebut, ribuan pejuang Kurdi dari Kurdistan Irak akan bergerak menuju wilayah barat Iran. Pasukan itu kemudian mendorong pemberontakan lokal dengan bantuan serangan udara Amerika Serikat.

Israel berharap langkah tersebut mampu menekan pemerintahan Teheran dari dua arah. Serangan dari udara akan melemahkan fasilitas keamanan, sementara kelompok bersenjata Kurdi bergerak dari wilayah perbatasan.

Namun, sejumlah pejabat Amerika Serikat meragukan rencana itu sejak awal. Mereka menilai operasi darat di Iran membutuhkan persiapan besar dan membawa risiko politik yang sulit dikendalikan.

POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL

🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal.

Download Aplikasi Shotsgoal - Live Streaming Piala Dunia 2026
📲 DOWNLOAD SEKARANG

Erdogan Langsung Pasang Rem untuk Rencana Israel

Sikap tegas Erdogan kemudian menjadi hambatan bagi rencana tersebut. Pemerintah Turkiye melihat kemunculan pasukan Kurdi bersenjata di sekitar Iran sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan keamanan Ankara.

Turkiye sudah lama berkonflik dengan Partai Pekerja Kurdistan atau PKK. Karena itu, Ankara tidak ingin melihat kelompok Kurdi memperoleh kekuatan militer baru di kawasan.

Sumber Israel dan negara-negara Teluk yang dikutip The Telegraph menyebut Erdogan telah menyampaikan keberatannya kepada Trump. Ia menegaskan bahwa Turkiye tidak akan menerima pembentukan negara Kurdi merdeka di kawasan tersebut.

Posisi Erdogan membuat Washington harus menghitung ulang konsekuensi rencana tersebut. Dukungan terhadap kelompok Kurdi berpotensi membuka persoalan baru bagi Turkiye sekaligus memperumit hubungan Amerika dengan salah satu anggota NATO.

Baca Juga: Trump Tegas! Iran Diperingatkan Keras soal Senjata Nuklir, Ada Apa?

Israel Tetap Cari Cara Menekan Iran dari Dalam

Israel sendiri sudah lama menjalin hubungan dengan sejumlah kelompok Kurdi. Dalam persaingan geopolitik Timur Tengah, kelompok tersebut dapat memberi tekanan tambahan terhadap lawan Israel.

Pada awal Maret, Trump juga berbicara dengan sejumlah pemimpin Kurdi. Komunikasi itu menunjukkan bahwa Washington masih melihat kelompok lokal sebagai salah satu pilihan untuk menghadapi Teheran.

Israel kemudian menyerang berbagai sasaran di wilayah barat Iran. Serangan tersebut menyasar fasilitas militer, sistem rudal, kantor polisi, serta lokasi yang berkaitan dengan Basij.

Serangan di wilayah barat Iran memunculkan dugaan bahwa Israel sedang membuka peluang bagi gerakan kelompok Kurdi. Namun, perkembangan berikutnya tidak berjalan sesuai harapan.

Kelompok Kurdi Sempat Bersiap, Tapi Trump Tak Beri Lampu Hijau

Pada 18 Maret, enam faksi Kurdi Iran kabarnya menyiapkan kekuatan untuk bergerak. Mereka tetap membutuhkan persetujuan akhir Trump sebelum menjalankan operasi.

Trump tidak memberikan persetujuan tersebut. Kelompok Kurdi juga mulai mempertanyakan peluang keberhasilan operasi karena mereka membutuhkan lebih dari sekadar dukungan militer. Mereka meminta jaminan politik untuk menghadapi konsekuensi setelah operasi.

Informasi mengenai rencana itu kemudian mulai muncul di media Amerika Serikat. Gedung Putih membantah bahwa Washington mempersenjatai kelompok Kurdi untuk menjalankan operasi tersebut.

Erdogan terus melobi Washington agar rencana itu berhenti. Sejumlah negara Teluk juga memperingatkan bahwa pemecahan Iran berdasarkan garis etnis dapat memicu konflik baru di Timur Tengah.

Trump Pilih Tekanan Ekonomi daripada Gulingkan Pemerintah Iran

Kegagalan skenario Kurdi menimbulkan kekecewaan di pihak Israel. Laporan yang sama menyebut Direktur Mossad Roman Gofman mencopot dua pejabat senior yang terlibat dalam penyusunan rencana perubahan rezim.

Netanyahu kembali membahas isu pergantian pemerintahan Iran bersama Trump pada 28 Juli. Namun, Trump tetap tidak memberikan dukungan untuk menjalankan operasi tersebut.

Pada akhirnya, Trump memilih mempertahankan tekanan ekonomi terhadap Iran. Washington mengambil jalur tersebut daripada mendukung operasi darat yang dapat memicu konflik lebih luas.

Perkembangan ini menunjukkan betapa rumitnya upaya mengguncang pemerintahan Iran. Israel memiliki kepentingan strategis, Amerika Serikat menghitung risiko politik dan militer, sementara Turkiye berusaha mencegah penguatan kelompok Kurdi di dekat wilayahnya. Dalam situasi seperti itu, penolakan Erdogan menjadi salah satu faktor penting yang mengubah arah rencana tersebut.

Similar Posts