Bawa Foto Anak Sekolah, Presiden Iran Sampaikan Pesan Keras di Sidang PBB

Suasana Sidang Umum PBB di New York kembali memanas setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato terkait perang yang berlangsung hampir tujuh bulan. Dalam kesempatan tersebut, Pezeshkian tidak hanya berbicara soal sikap pemerintah Iran, tetapi juga membawa sejumlah foto korban serangan untuk memperkuat pesannya.
Di hadapan para pemimpin dunia, ia memperlihatkan foto anak-anak sekolah yang menurut Iran tewas dalam serangan terhadap sebuah sekolah di Minab. Ia juga menunjukkan foto mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan pada awal konflik. Simak ulasan lengkapnya dari VIEWNEWZ.
Foto Anak Sekolah Jadi Bagian dari Pidato Pezeshkian
Pezeshkian menggunakan foto para korban untuk menggambarkan dampak perang terhadap masyarakat sipil Iran. Ia menyebut serangan terhadap sekolah dan fasilitas sipil sebagai bagian dari tindakan yang menurut pemerintah Iran dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pidatonya, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak memulai perang. Ia juga membantah tuduhan bahwa negaranya merupakan pihak yang melakukan terorisme. Menurutnya, masyarakat Iran justru menjadi korban serangan selama konflik berlangsung.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Delegasi AS Tinggalkan Ruang Sidang
Pidato tersebut mendapat respons langsung dari delegasi Amerika Serikat. Saat Pezeshkian menyampaikan sejumlah kritik terhadap Washington, delegasi AS memilih meninggalkan ruang sidang.
Momen itu terjadi ketika Pezeshkian sedang membahas tuduhan terorisme dan serangan terhadap warga Iran. Tidak lama setelah delegasi AS keluar, presiden Iran melanjutkan pidatonya dan menyampaikan sikap negaranya mengenai perang serta hubungan dengan Washington.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dari rangkaian Sidang Umum PBB tahun ini. Sejumlah laporan media internasional juga mencatat bahwa Pezeshkian menyampaikan pidato dengan nada tegas sehari setelah Presiden AS Donald Trump berbicara di forum yang sama.
Baca Juga: Breaking News! Tak Gentar Hadapi Trump, Presiden Iran Tiba di New York
Iran Tegaskan Tidak Akan Bertekuk Lutut
Pezeshkian kemudian menyampaikan pesan keras kepada pemerintahan Trump. Ia mengatakan tekanan, sanksi, dan ancaman militer tidak akan membuat Iran menyerah.
Menurut Pezeshkian, tekanan justru dapat memperkuat perlawanan masyarakat Iran. Ia menegaskan bahwa negaranya tidak akan menundukkan kepala meskipun menghadapi tekanan besar dalam konflik dengan AS dan Israel.
Pernyataan itu menjadi respons terhadap ucapan Trump sehari sebelumnya yang mengatakan Amerika Serikat sedang menghadapi keputusan besar terkait Iran. Trump juga menggunakan bahasa keras ketika membahas kemungkinan tindakan terhadap Teheran.
Pintu Diplomasi Masih Terbuka
Meski menyampaikan kritik tajam, Pezeshkian tidak menutup peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi. Ia mengatakan Iran tetap siap berdialog dan bernegosiasi selama pembicaraan tidak menggunakan ancaman maupun bahasa kekerasan.
Posisi tersebut menunjukkan bahwa Tehran masih melihat diplomasi sebagai salah satu jalan untuk mengakhiri konflik. Namun, Pezeshkian menyebut Iran memiliki sejumlah syarat, termasuk persoalan akses terhadap jalur pelayaran di kawasan Teluk.
Ia menyinggung Selat Hormuz sebagai jalur penting bagi perdagangan dan aktivitas energi dunia. Menurutnya, Iran tidak ingin negara lain memperoleh keuntungan dari jalur tersebut sementara Iran sendiri menghadapi pembatasan untuk mengakses wilayah perairannya.
Iran Bicara Soal Program Nuklir Sipil
Selain perang dan diplomasi, isu nuklir juga menjadi bagian penting dalam pidato Pezeshkian. Ia kembali menegaskan bahwa Iran berhak mengembangkan teknologi nuklir untuk kepentingan damai.
Pezeshkian menyatakan Iran tidak berniat membuat senjata nuklir. Namun, ia juga menolak pembatasan terhadap teknologi nuklir yang menurut Tehran dapat digunakan untuk kebutuhan sipil.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump sebelumnya mengatakan perang telah mencegah Iran mendapatkan bom nuklir dan menyerukan agar pemimpin Iran meninggalkan ambisi nuklir. Di tengah perbedaan sikap itu, isu nuklir tetap menjadi salah satu persoalan utama dalam setiap pembicaraan antara Iran dan negara-negara Barat.
Pidato Pezeshkian akhirnya memperlihatkan dua pesan utama Tehran: Iran menolak tekanan militer dan politik, tetapi masih membuka ruang untuk diplomasi. Sikap tersebut disampaikan di tengah konflik yang terus berlangsung dan perhatian internasional terhadap kondisi warga sipil di kawasan.
