Geger! Duterte Disidang ICC, Dituding Dalangi 78 Pembunuhan Perang Narkoba

Duterte hadapi sidang ICC atas dugaan 78 pembunuhan selama perang narkoba di Filipina, soroti praktik kekerasan ekstrim.

Geger! Duterte Disidang ICC, Dituding Dalangi 78 Pembunuhan Perang Narkoba

Kasus perang narkoba Filipina kembali memanas! Mantan Presiden Duterte kini menghadapi sidang ICC atas dugaan keterlibatan 78 pembunuhan, memicu sorotan global terhadap kebijakan kerasnya. Dapatkan kabar penting, inspiratif, dan bermanfaat dari dalam dan luar negeri, eksklusif di VIEWNEWZ, teman setia menambah wawasan Anda.

tebak skor hadiah pulsabanner-free-jersey-timnas

Duterte Disidang ICC: Awal Sidang Pendahuluan Di Den Haag

Pada Senin (23/2/2026), Mahkamah Pidana Internasional (ICC) membuka sidang pendahuluan terhadap mantan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Sidang ini menandai babak baru dalam penyelidikan internasional atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan yang menimpa Duterte.

Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mendakwa Duterte, 80 tahun, atas tiga tuduhan utama terkait puluhan pembunuhan yang diduga dilakukannya selama kebijakan keras melawan kejahatan narkoba. Kasus ini menuding Duterte melakukan dugaan tindakan mulai dari masa jabatannya sebagai walikota Davao City hingga periode kepresidenannya di Filipina.

Sidang di Den Haag menjadi sorotan internasional karena jaksa ICC memaparkan bukti dugaan keterlibatan Duterte dalam operasi bersenjata yang menargetkan tersangka pengedar dan pengguna narkoba. Proses ini penting untuk menentukan apakah kasusnya layak dibawa ke persidangan penuh.

Ayo Kawal Timnas Menuju Piala Dunia - Link Aplikasi Nonton Timnas Indonesia GRATIS! Segera download! APLIKASI SHOTSGOAL

apk shotsgoal  

Tuduhan Dan Modus Operandi Duterte

Jaksa ICC, Mame Niang, memaparkan bahwa Duterte memainkan peran kunci dalam pembunuhan di luar hukum yang dilakukan oleh regu bersenjata (death squads). Ia menuding Duterte memanfaatkan ketakutan dan imbalan finansial untuk mendorong pelaku.

Bagi sebagian pelaku, membunuh telah berubah menjadi semacam kompetisi yang menyimpang, ujar Niang dalam pembukaannya. Tuduhan menyebut Duterte terlibat dalam setidaknya 78 pembunuhan, termasuk secara langsung memilih beberapa korban.

Jaksa menegaskan bahwa selama masa kepresidenannya dari 2016 hingga 2022, Duterte membiarkan dan memfasilitasi aksi-aksi kekerasan di luar proses hukum resmi. Tuduhan ini mencakup semua tindakan yang dilakukan dengan motif perang melawan narkoba di Filipina.

Baca Juga: Viral! Helikopter Militer Iran Jatuh di Pasar Buah, 4 Orang Meregang Nyawa!

Reaksi Duterte Dan Pihak Pendukung

 Reaksi Duterte Dan Pihak Pendukung 700

Duterte tidak hadir dalam persidangan, namun pengacaranya, Nicholas Kaufman, menegaskan kliennya tetap teguh mempertahankan legasinya. Ia mempertahankan rasa ketidakbersalahannya sepenuhnya,kata Kaufman.

Sementara itu, demonstran pro dan kontra Duterte berkumpul di luar pengadilan ICC. Llore Pasco, yang kehilangan dua putranya pada 2017, menyatakan ini adalah momen penting bagi keluarga korban.

Di sisi lain, Aldo Villarta menilai persidangan ini sebagai tamparan bagi Filipina. Ia menegaskan pengadilan internasional mengadili mantan pemimpin negara sendiri dan hal ini menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat Filipina.

Jumlah Korban Dan Kontroversi Statistik

Estimasi jumlah korban selama perang narkoba Duterte sangat bervariasi. Laporan resmi kepolisian nasional mencatat sedikitnya 6.000 orang tewas, sementara organisasi hak asasi manusia memperkirakan jumlah korban bisa mencapai 30.000.

Data ini mencerminkan tingkat kekerasan yang tinggi dan kontroversial selama masa kepresidenan Duterte. Kasus ini juga menimbulkan sorotan global terhadap praktik hak asasi manusia di Filipina.

Sidang ICC menjadi alat penting untuk mengkaji bukti dan memastikan proses hukum internasional berjalan dengan transparan. Penyelidikan ini bertujuan menegakkan akuntabilitas atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia.

Dampak Politik Dan Masa Depan Duterte

Setelah masa kepresidenannya berakhir pada Juni 2022, Duterte kembali ke Davao City. Putrinya, Sara Duterte, menjadi Wakil Presiden pada tahun yang sama, menciptakan aliansi politik strategis antara keluarga Duterte dan Marcos.

Namun, konflik politik kemudian muncul, termasuk tuduhan penggelapan dan rencana pembunuhan terhadap Marcos yang dibantah Duterte. Duterte sendiri menantang ICC agar mempercepat penyelidikan, bahkan menawarkan agar penyidik datang langsung ke Filipina.

Sidang ini akan menentukan apakah Duterte akan menghadapi persidangan penuh di ICC. Hakim memiliki waktu 60 hari untuk menelaah bukti dan membuat keputusan apakah kasus ini cukup kuat untuk melanjutkan ke tahap persidangan berikutnya.

Dapatkan semua berita viral, trending, dan update terpanas, langsung di VIEWNEWZ, pusat informasi terkini hanya untuk Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari kompas.com
  • Gambar Kedua dari kompas.com

Similar Posts