Gelombang Penyesalan PM Thailand, Akui Gagal Tangani Banjir Mematikan
Perdana Menteri Thailand menghadapi gelombang penyesalan setelah mengakui kegagalannya menangani banjir mematikan yang menewaskan banyak warga.

Thailand tengah berduka akibat banjir besar yang menewaskan sedikitnya 170 orang dan menimbulkan kerusakan luas. Di tengah krisis, Perdana Menteri Anutin Charnvirakul memimpin upaya pemulihan sekaligus menyampaikan permohonan maaf kepada rakyat. Berikut ini VIEWNEWZ akan membahas permintaan maaf PM Anutin, dampak banjir, kritik terhadap pemerintah, dan langkah pemulihan yang sedang dilakukan.
Perdana Menteri Anutin Charnvirakul Meminta Maaf
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas kegagalan negaranya dalam melindungi rakyat yang dilanda banjir. Pernyataan ini muncul di tengah tingginya angka korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang parah. Permintaan maaf ini mencerminkan pengakuan akan kekurangan dalam penanggulangan bencana.
Anutin, yang mengunjungi area terdampak banjir seperti Hat Yai, mengakui bahwa pemerintah memiliki kekurangan dalam penanganan krisis ini. “Kita harus meminta maaf karena telah memaksa orang-orang meninggalkan rumah-rumah mereka dan hidup seperti ini,” ujarnya. Ini adalah bentuk empati dan akuntabilitas dari pemimpin negara.
Ia juga menambahkan, “Apa pun masalahnya, kita harus mengakui bahwa kesalahan telah terjadi, tetapi kita tidak boleh membiarkan kesalahan terulang atau lebih buruk lagi. Kita harus pulih.” Pernyataan ini menunjukkan komitmen untuk perbaikan di masa depan dan pencegahan agar tragedi serupa tidak terulang kembali.
Ayo Kawal Timnas Menuju Piala Dunia - Link Aplikasi Nonton Timnas Indonesia GRATIS! Segera download! APLIKASI SHOTSGOAL
![]()
170 Jiwa Melayang Akibat Banjir
Jumlah korban tewas akibat banjir di Thailand telah mencapai sedikitnya 170 orang per 1 Desember 2025. Kementerian Kesehatan Masyarakat melaporkan penambahan delapan korban jiwa dalam dua hari, menunjukkan tingkat keparahan bencana. Selain itu, 102 orang lainnya mengalami luka-luka.
Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana mencatat bahwa lebih dari 1,4 juta rumah tangga, atau sekitar 3,8 juta orang, terdampak banjir. Bencana ini dipicu oleh hujan lebat yang mengguyur 12 provinsi di wilayah selatan Thailand, menunjukkan skala geografis yang sangat luas.
Provinsi Songkhla menjadi daerah dengan korban tewas terbanyak, mencapai 131 orang. Kota terbesar di Songkhla, Hat Yai, mencatat curah hujan ekstrem 335 mm dalam satu hari pada Jumat pekan lalu, yang merupakan curah hujan tertinggi dalam 300 tahun terakhir. Angka ini menggambarkan intensitas bencana yang luar biasa.
Baca Juga: BMKG Ingatkan Ancaman Siklon Tropis di Selatan Indonesia Hingga Feb 2026
Pemerintah di Bawah Sorotan

Skala banjir yang meluas dan tingginya korban jiwa memicu kritik tajam terhadap pemerintah Thailand. Banyak pihak mempertanyakan efektivitas penanganan bencana dan kesiapan otoritas dalam menghadapi situasi ekstrem. Kritik ini menjadi dorongan bagi pemerintah untuk lebih transparan dan bertanggung jawab.
Setidaknya dua pejabat lokal Thailand telah dinonaktifkan atas dugaan kegagalan mereka menangani banjir. Tindakan ini menunjukkan bahwa pemerintah serius dalam menanggapi kritik dan menegakkan akuntabilitas di antara jajarannya. Ini juga menjadi peringatan bagi pejabat lain akan pentingnya respons yang cepat dan tepat.
Selama kunjungan Anutin ke area terdampak, banyak warga meluapkan kekesalan atas penanganan krisis yang dinilai tidak efektif. Anutin menanggapi, “Siapa pun pasti marah. Kita harus menerimanya karena kesalahan bisa terjadi dalam situasi seperti ini. Biarkan mereka melampiaskan kekesalan dan kita meminta maaf.”
Upaya Pemulihan Dan Bantuan Pemerintah
Otoritas Thailand terus mengirimkan bantuan dan membersihkan kerusakan yang terjadi akibat banjir. Upaya ini meliputi penyaluran kebutuhan dasar, perbaikan infrastruktur, dan dukungan psikososial bagi para korban. Pemerintah berupaya semaksimal mungkin untuk memulihkan kondisi masyarakat.
Bantuan pemerintah mencakup kompensasi hingga 2 juta Baht untuk keluarga yang kehilangan orang tercinta mereka. Ada juga bantuan tambahan lainnya, termasuk penangguhan utang dan pinjaman jangka pendek tanpa bunga untuk usaha dan perbaikan rumah. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meringankan beban ekonomi korban.
Meskipun demikian, tantangan yang dihadapi sangat besar. Pemerintah berkomitmen untuk memastikan bahwa semua bantuan disalurkan secara efektif dan tepat sasaran. Fokus utama adalah pada pemulihan jangka panjang dan pembangunan kembali komunitas yang terdampak agar dapat bangkit dari bencana ini.
Manfaatkan juga waktu anda untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi tentang semua informasi viral terupdate lainnya hanya di VIEWNEWZ.
- Gambar Pertama dari news.detik.com
- Gambar Kedua dari news.detik.com

