Gencatan Senjata Pecah Lagi! 12 Warga Gaza Tewas Dalam Serangan Brutal Israel
Serangan Israel ke Jalur Gaza kembali menewaskan sedikitnya 12 warga Palestina meskipun gencatan senjata masih berlaku.
Meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah diberlakukan untuk meredakan konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas, kekerasan masih terus terjadi di Jalur Gaza. Dalam serangan terbaru, militer Israel dilaporkan kembali melancarkan serangan udara yang menewaskan sedikitnya 12 warga Palestina, termasuk anak-anak dan warga sipil.
Berikut ini, VIEWNEWZ akan membahas tentang Serangan Israel ke Jalur Gaza kembali menewaskan sedikitnya 12 warga Palestina.
Kronologi Pelanggaran Gencatan Senjata
Meski gencatan senjata telah berlaku sejak akhir tahun lalu, serangan terbaru terjadi pada pertengahan Februari 2026 ketika jet-jet tempur Israel menargetkan sejumlah titik di berbagai kawasan Gaza. Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa operasi ini menewaskan setidaknya 12 warga sipil dalam waktu 24 jam terakhir.
Serangan itu terjadi di beberapa daerah, termasuk Jabaliya, Khan Younis, dan Gaza City, wilayah yang sejak awal gencatan senjata dianggap relatif aman. Dalam beberapa hari sebelum serangan terbesar tersebut, serangan-serangan kecil juga merenggut nyawa sejumlah warga Gaza dan menunjukkan bahwa pola pelanggaran terus berlanjut.
Pihak Israel menyatakan bahwa mereka melancarkan serangan tersebut sebagai respons atas dugaan pelanggaran yang militan di Gaza lakukan. Menurut Israel, kelompok militan itu terus berupaya menembus batas-batas yang kedua pihak sepakati dalam perjanjian gencatan senjata. Namun, Hamas dan otoritas sipil Palestina membantah tuduhan tersebut dan menilai Israel menggunakan alasan itu sebagai dalih untuk melanjutkan aksi militer.
Ayo Kawal Timnas Menuju Piala Dunia - Link Aplikasi Nonton Timnas Indonesia GRATIS! Segera download! APLIKASI SHOTSGOAL
![]()
Dampak Kemanusiaan di Gaza
Serangan terhadap Gaza membawa dampak yang sangat berat bagi warga sipil yang telah lama hidup di tengah konflik. Puluhan warga yang tewas dalam serangan terbaru sebagian besar adalah nonkombatan, termasuk anak-anak dan perempuan. Data awal menunjukkan adanya korban luka dan banyak bangunan tempat tinggal yang hancur akibat ledakan.
Kondisi di wilayah Gaza kini sangat rapuh. Sejak pihak-pihak terkait memberlakukan gencatan senjata pada Oktober 2025, laporan bulan lalu mencatat ratusan warga Palestina meninggal dunia akibat berbagai pelanggaran perjanjian tersebut, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka.
Krisis ini juga memperburuk kondisi kemanusiaan yang sudah parah di Gaza, termasuk kekurangan pangan, obat-obatan, dan layanan medis. Banyak fasilitas kesehatan beroperasi di bawah tekanan besar, dengan staf medis kewalahan menangani jumlah korban yang terus meningkat setiap kali kekerasan kembali meningkat.
Baca Juga: Jelang Imlek 2026, Polres Jaksel Siaga Maksimal Amankan Vihara dan Ibadah
Reaksi Pihak Palestina dan Hamas
Pihak otoritas Palestina dan Hamas mengecam keras serangan terbaru ini, menyebutnya sebagai “pembantaian” dan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata yang seharusnya menjamin penghentian permusuhan. Mereka menilai bahwa tindakan militer tersebut menunjukkan kurangnya komitmen dari pihak Israel untuk menghormati proses perdamaian.
Hamas sendiri menuduh Israel sengaja menggunakan alasan pelanggaran kecil dari militan untuk membenarkan serangan besar yang berdampak pada warga sipil. Pernyataan resmi Hamas menekankan bahwa kekerasan ini justru memperparah ketidakpercayaan dan ketegangan antara kedua pihak.
Reaksi dari warga Gaza juga dipenuhi dengan duka dan kemarahan. Keluarga korban menyatakan rasa frustrasi mereka terhadap ketidakmampuan komunitas internasional untuk menghentikan kekerasan, sementara banyak anak dan keluarga lainnya terus hidup dalam ketakutan akan serangan berikutnya.
Respons dan Tekanan Internasional
Komunitas internasional telah menyuarakan kekhawatiran atas pelanggaran gencatan senjata yang terjadi berulang kali di Gaza. Sejumlah negara dan organisasi internasional mendesak kedua pihak untuk menahan diri serta menghormati perjanjian perdamaian yang telah mereka rundingkan, sambil menekankan pentingnya perlindungan bagi warga sipil.
Amerika Serikat berperan sebagai mediator dalam proses gencatan senjata dan telah memperkenalkan fase kedua dari kesepakatan tersebut. Fase ini mencakup pengawasan serta mekanisme penanggulangan pelanggaran. Pemerintah AS berharap langkah ini dapat memperkuat ketahanan perjanjian dan menciptakan kondisi yang lebih stabil di lapangan.
Meski berbagai upaya diplomatik terus berjalan, tantangan besar masih menghadang. Para pihak masih terlibat dalam perdebatan sengit mengenai langkah yang perlu mereka ambil untuk mendorong tercapainya kesepakatan yang lebih berkelanjutan. Termasuk isu demiliterisasi, akses bantuan kemanusiaan, dan pembangunan kepercayaan antara kedua belah pihak.
Tantangan Menuju Perdamaian Abadi
Gencatan senjata yang rapuh menunjukkan bahwa konflik Israel–Hamas tetap jauh dari penyelesaian. Meskipun ada keinginan dari berbagai pihak untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan, kenyataannya adalah berbagai pelanggaran terus menghambat proses tersebut.
Salah satu tantangan terbesar adalah kurangnya mekanisme efektif yang mampu menegakkan kesepakatan gencatan senjata di lapangan. Setiap insiden kekerasan biasanya langsung memicu eskalasi baru, mengancam stabilitas yang sudah rapuh.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari detikcom
- Gambar Kedua dari Metro TV

