Iran Punya ‘Dewa Perang’ Baru! Seberapa Kuat Militer Mohsen Rezaei?
Iran menunjuk mantan panglima IRGC Mohsen Rezaei sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat.
Penunjukan itu bukan sekadar pergantian pejabat. Rezaei membawa pengalaman panjang di dunia militer sekaligus jaringan politik yang luas. Posisi barunya berpotensi membuat koordinasi antara pemerintah, militer, intelijen, dan lembaga keamanan Iran semakin solid. Simak ulasan lengkapnya dari VIEWNEWZ.
Mohsen Rezaei Kembali ke Pusat Kekuasaan Iran
Rezaei menggantikan Mohammad Bagher Zolghadr yang kini menjalankan tugas sebagai penasihat politik Pemimpin Tertinggi. Sebelumnya, posisi tersebut juga pernah ditempati Ali Larijani sebelum wafat akibat serangan AS-Israel pada Maret lalu.
Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei turut menerbitkan dekrit yang menunjuk Rezaei sebagai perwakilannya di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Keputusan ini memperlihatkan besarnya kepercayaan terhadap pengalaman Rezaei, terutama karena ia pernah menjadi salah satu tokoh penting Iran selama Perang Iran-Irak.
Rezaei juga memiliki posisi yang cukup fleksibel secara politik. Dukungan terhadap Mohammad Bagher Ghalibaf dalam pemilu 2024 membuatnya lebih dekat dengan kelompok konservatif moderat ketimbang kubu garis keras Saeed Jalili.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Kenapa Jabatan Ini Begitu Penting?
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi menjadi ruang penting bagi berbagai lembaga Iran untuk menyusun kebijakan strategis. Presiden, kementerian luar negeri, angkatan bersenjata, hingga badan intelijen memiliki kepentingan dalam forum tersebut.
Analis senior Center for Middle East Strategic Studies, Abas Aslani, menilai Iran membutuhkan figur yang mampu menghubungkan berbagai lembaga. Menurutnya, pengalaman Rezaei dapat membantu pemerintah menyelaraskan kepentingan politik dan keamanan yang terkadang berbeda.
Rezaei juga punya pengalaman di Dewan Pertimbangan Maslahat. Latar belakang tersebut membuatnya tidak hanya memahami persoalan militer, tetapi juga dinamika politik dalam negeri. Kemampuan menjangkau sejumlah faksi menjadi salah satu alasan kuat di balik penunjukannya.
Baca Juga: Militer Iran Dirombak Besar-besaran! Mojtaba Khamenei Tunjuk 6 Komandan Baru
Rezaei Bisa Mengubah Arah Diplomasi Iran?
Kehadiran Rezaei berpotensi memberi warna baru dalam diplomasi Iran, terutama ketika hubungan dengan Washington kembali memanas. Figur mantan komandan IRGC bisa memberikan legitimasi lebih kuat terhadap keputusan keamanan yang diambil pemerintah.
Pengamat politik Mashallah Shamsolvaezin menilai rekam jejak Rezaei dapat menjadi semacam jaminan politik. Kelompok konservatif garis keras akan lebih sulit menuduh pemerintah terlalu lunak apabila proses diplomasi melibatkan tokoh militer senior.
Situasi tersebut menjadi penting karena Tehran menghadapi tekanan terkait sanksi dan jalur perdagangan. Iran harus menjaga posisi tawar tanpa menutup peluang negosiasi. Rezaei berada di posisi yang cukup strategis untuk menjembatani dua kepentingan tersebut.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Berikutnya
Salah satu persoalan paling sensitif dalam kebijakan keamanan Iran adalah Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut menjadi bagian penting dari perdagangan energi dunia dan selama bertahun-tahun masuk dalam kalkulasi pertahanan Tehran.
Rezaei secara konsisten menekankan pentingnya kendali Iran atas kawasan tersebut. Pada Juli lalu, ia bahkan menyebut kontrol terhadap Selat Hormuz memiliki nilai strategis yang sangat besar bagi negaranya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Rezaei tidak hanya melihat Hormuz sebagai jalur perdagangan. Bagi Tehran, kawasan tersebut juga menjadi instrumen strategis untuk menghadapi tekanan militer dan ekonomi dari luar negeri.
Rekam Jejak Sang Mantan Panglima IRGC
Rezaei kini berusia 71 tahun dan pernah memimpin IRGC pada 1981 hingga 1997. Ia menjalankan peran penting selama Perang Iran-Irak, periode yang Iran kenal sebagai era Pertahanan Suci.
Setelah meninggalkan jabatan militer, Rezaei tetap berada di lingkaran kekuasaan. Ia kemudian aktif di Dewan Pertimbangan Maslahat dan terlibat dalam proses politik serta penyelarasan kebijakan negara.
Pengalaman puluhan tahun tersebut membuat Rezaei memahami cara kerja mesin keamanan Iran dari dalam. Ia juga memiliki pengalaman menghadapi tekanan internasional dan konflik berskala besar.
Kini, tugas Rezaei bukan lagi memimpin pasukan di medan perang. Ia harus menggabungkan pengalaman militernya dengan kemampuan politik untuk menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks. Ketegangan dengan Amerika Serikat, masa depan diplomasi, serta posisi Iran di Selat Hormuz akan menjadi ujian besar bagi sang mantan panglima.
Penunjukan ini belum tentu berarti Iran langsung mengambil jalur konfrontasi. Namun, kehadiran Rezaei jelas memperkuat suara keamanan di pusat pengambilan keputusan Tehran. Dalam situasi yang semakin panas, langkah tersebut menunjukkan bahwa Iran ingin bernegosiasi dari posisi yang tetap memiliki daya tekan.
