Viral! Menu MBG Ramadan di Sukabumi Cuma Singkong Dan Kurma, Ini Klarifikasi SPPG!
Menu MBG Ramadan di Sukabumi viral karena hanya menyediakan singkong dan kurma, SPPG memberikan klarifikasi terkait menu.
Ramadan selalu membawa semangat berbeda di setiap pesantren. Namun, bulan puasa kali ini memunculkan berita viral dari Sukabumi. Menu MBG Ramadan yang disajikan untuk para santri hanya berisi singkong dan kurma. Banyak warga dan netizen menyoroti hal ini, hingga SPPG akhirnya angkat bicara.
Simak dan ikutin terus informasi terbaru dan terviral lainnya yang sedang viral hanya ada di VIEWNEWZ.
Reaksi Warga dan Netizen
Setelah foto menu MBG viral, banyak komentar muncul di media sosial. Warga Sukabumi menilai menu terlalu sederhana untuk memenuhi kebutuhan gizi santri selama Ramadan. Beberapa netizen menyoroti ketidakseimbangan antara karbohidrat dan protein dalam menu tersebut.
Santri juga membagikan pengalaman mereka. Sebagian mengaku tetap bersyukur karena mendapat makanan untuk sahur dan berbuka. Namun, beberapa menyebut merasa kurang kenyang karena menu hanya berupa singkong dan kurma.
Diskusi ini akhirnya menjalar ke grup komunitas pesantren dan forum online. Banyak orang menuntut penjelasan resmi dari SPPG agar masyarakat memahami situasi sebenarnya. Situasi ini menunjukkan perhatian publik terhadap pola makan anak-anak pesantren.
Ayo Kawal Timnas Menuju Piala Dunia - Link Aplikasi Nonton Timnas Indonesia GRATIS! Segera download! APLIKASI SHOTSGOAL
![]()
Klarifikasi SPPG Sukabumi
SPPG merespons langsung isu ini. Mereka menegaskan bahwa menu singkong dan kurma bukan pilihan sembarangan. Menu ini disusun berdasarkan pertimbangan gizi sederhana untuk bulan puasa, serta ketersediaan bahan lokal.
Pihak SPPG menjelaskan bahwa singkong memberikan energi dan serat, sedangkan kurma mengandung gula alami yang membantu tubuh tetap bertenaga saat berpuasa. Menu ini sengaja dipilih agar mudah disiapkan untuk jumlah santri yang banyak.
Selain itu, SPPG menambahkan bahwa menu akan dilengkapi dengan makanan tambahan di hari-hari tertentu. Mereka berjanji meninjau ulang penyediaan protein dan sayur agar santri tetap mendapatkan gizi seimbang.
Baca Juga: Heboh! Jepang Siap Pasang Rudal Dekat Taiwan, China Panik
Tantangan Logistik dan Persiapan MBG
Pihak SPPG menghadapi tantangan besar dalam menyiapkan MBG Ramadan. Jumlah santri yang cukup banyak membuat logistik menjadi faktor utama. Mereka harus memastikan makanan tersedia tepat waktu untuk sahur dan berbuka.
Ketersediaan bahan lokal juga mempengaruhi menu. Singkong dan kurma mudah diperoleh di wilayah Sukabumi. Memasak bahan ini juga lebih cepat dan praktis dibandingkan menu kompleks yang membutuhkan persiapan panjang.
Selain itu, SPPG harus menyesuaikan menu dengan keterbatasan dapur pesantren. Tim memasak beroperasi dalam skala besar, sehingga menu yang sederhana meminimalkan risiko keterlambatan dan pemborosan makanan.
Upaya Peningkatan Gizi Santri
Meski menu awal terlihat sederhana, SPPG telah menyiapkan langkah peningkatan gizi. Mereka akan menambahkan lauk hewani atau nabati pada beberapa hari tertentu. Misalnya, ikan atau tahu tempe sebagai sumber protein.
Selain itu, pihak pesantren bekerja sama dengan donatur lokal untuk menyediakan buah, sayuran, dan susu. Program ini bertujuan menyeimbangkan nutrisi santri agar tetap sehat selama Ramadan.
SPPG juga mengedukasi santri terkait pola makan sehat saat puasa. Mereka mendorong konsumsi air cukup, buah kurma, dan makanan berenergi untuk menjaga stamina. Upaya ini membantu santri tetap aktif menjalankan ibadah dan kegiatan belajar.
Pelajaran Dari Menu Sederhana MBG
Kasus viral menu MBG Ramadan di Sukabumi memberi pelajaran penting. Masyarakat bisa melihat realitas penyediaan makanan untuk santri di pesantren dengan jumlah besar. Menu sederhana tidak selalu berarti mengabaikan gizi, tapi sering menyesuaikan dengan keterbatasan logistik.
SPPG menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan santri menjadi prioritas. Dengan keterbatasan sumber daya, mereka tetap berusaha menyiapkan menu bergizi, meski terlihat minimalis.
Fenomena ini juga membuka ruang diskusi tentang dukungan masyarakat. Donatur dan pihak luar dapat membantu menyediakan variasi menu agar keseimbangan gizi santri lebih optimal. Akhirnya, menu sederhana pun bisa berubah menjadi solusi yang efektif jika didukung koordinasi dan perhatian bersama.
- Gambar Utama dari Liputan6.com
- Gambar Kedua dari Ribaknews26

