Viral! Seluruh Warga Kompak Buat Tagar 1312 & RIP Democracy

​​Tagar 1312 dan “RIP Democracy” menjadi viral di media sosial Indonesia. Setelah insiden tragis yang melibatkan seorang pengemudi ojol dan aparat keamanan pada demonstrasi​.

Viral! Seluruh Warga Kompak Buat Tagar 1312 & RIP Democracy

Insiden tragis yang menewaskan seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan pada malam 28 Agustus 2025 menjadi momen penuh duka sekaligus tengara kritik tajam terhadap aparat keamanan.

Dibawah ini anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran VIEWNEWZ.

tebak skor hadiah pulsabanner-free-jersey-timnas

Tragedi Ojol Tertabrak Saat Demo

Pada 28 Agustus 2025, sebuah unjuk rasa besar yang awalnya digalang demi menuntut keadilan dan reformasi berubah menjadi tragedi nasional. Seorang pengemudi ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan, usia 21 tahun. Meninggal dunia usai tertabrak oleh mobil taktis Brimob Barracuda saat demo di kawasan Senayan, Jakarta pusat.

Affan, yang juga tulang punggung keluarga besar. Berupaya menghindar dari kericuhan di Jalan Penjernihan I dekat Gereja Protestant Angkola Pejompongan saat terjadi bentrokan antara massa dan aparat. Ia terpeleset, dan sebuah kendaraan taktis yang sempat berhenti kemudian lanjut melindasnya hingga menyebabkan cedera fatal. Ia dibawa ke RSCM. Namun nyawanya tidak tertolong.

Reaksi atas tragedi ini sangat besar Presiden Prabowo Subianto menyampaikan permintaan maaf publik dan memerintahkan penyelidikan menyeluruh Kepala Polri Listyo Sigit Prabowo juga meminta transparansi penuh dalam penanganan kasus ini.

Sementara itu, Gojek dan Grab sebagai perusahaan aplikator memberi dukungan dengan mengganti logo mereka menjadi hitam sebagai tanda duka dan solidaritas.

Ayo Kawal Timnas Menuju Piala Dunia - Link Aplikasi Nonton Timnas Indonesia GRATIS! Segera download! APLIKASI SHOTSGOAL

apk shotsgoal  

Merangkai Titik-Titik Protes

Narasi tragis Affan tidak berdiri sendiri ia menjadi simbol dari ketidakadilan struktural dan ketegangan antara institusi dengan rakyat. Pelan-pelan, cerita tersebut menyatu dengan lagu-lagu protes mahasiswa, tuntutan buruh, bahkan kritik kepada pemerintah pusat.

Kematian seorang driver ojol yang notabene berprofesi sehari-hari menembus batas kelas sosial ia adalah simbol rakyat yang terpinggirkan tapi menjadi sorotan ketika menyangkut nyawa.

Apakah ini memicu Reformasi Jilid II? Hanya waktu yang tahu. Namun yang jelas, insiden seperti ini mengundang dialog mendasar mengenai kemanusiaan, tanggung jawab negara, dan ruang yang diberikan kepada warga biasa untuk hidup aman sambil berupaya memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ke depan, respons pemerintah apakah bisa menjamin transparansi, membuat hukum yang adil. Dan memperbaiki hubungan dengan warga kelas bawah akan menentukan apakah momentum ini hanya akan menjadi tragedi lalu berlalu atau menjadi fondasi bagi perubahan sistemik yang lebih panjang dan dalam.

Baca Juga: DPR Anti Kritik Dan Tidak Berpihak Pada Rakyat, Demo Bubarkan DPR Kian Menguat!

Proses Hukum dan Tanggung Jawab

Proses Hukum dan Tanggung Jawab

Menyusul insiden tragis itu, Kadiv Propam Polri Irjen Abdul Karim menyatakan bahwa tujuh anggota Brimob yang berada dalam mobil rantis telah diamankan dan diperiksa oleh Propam bersama Brimob Polda Metro Jaya.

Polri menekankan komitmennya untuk menjalankan proses pidana yang transparan dan berkeadilan. Serta melibatkan pihak eksternal dalam penanganannya.

Langkah ini mendapat perhatian luas, terutama dari komunitas ojol dan publik umum. Yang menuntut keadilan dan pertanggungjawaban institusional. Isu ini dinilai sebagai simbol ketegangan antara rakyat terkhusus pekerja informal dan aparat negara.

Makna “RIP Democracy” Dalam Konteks Demonstrasi

Tagar “RIP Democracy” yang ramai digunakan di media sosial dalam konteks demonstrasi di Indonesia merupakan bentuk kritik keras terhadap kondisi demokrasi yang dianggap semakin merosot. Istilah ini memadukan frasa “Rest in Peace” (RIP) dengan plesetan kata democracy, seolah menyatakan bahwa demokrasi di Indonesia telah “mati” atau kehilangan ruhnya.

Munculnya tagar ini merefleksikan rasa frustrasi publik terhadap praktik politik yang dianggap jauh dari prinsip keterbukaan, partisipasi rakyat, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Penggunaan tagar tersebut juga menjadi sarana simbolis untuk menggalang solidaritas dan memperluas jangkauan pesan protes ke ranah digital, di luar ruang fisik demonstrasi.

Dalam konteks demonstrasi yang memanas, “RIP Democracy” tidak hanya sekadar sindiran. Tetapi juga peringatan bahwa legitimasi pemerintah akan terus dipertanyakan jika aspirasi rakyat diabaikan. Tagar ini memotret persepsi bahwa kekuasaan kini lebih condong berpihak pada kepentingan elit dan aparat. Sementara ruang kebebasan berekspresi semakin terhimpit.

Dengan viralnya frasa ini, publik mengirimkan pesan bahwa demokrasi yang sehat tidak cukup hanya ada di konstitusi. Tetapi harus hadir nyata dalam kebijakan, tindakan aparat, dan perlakuan adil terhadap seluruh warga negara.

Apakah Momen Ini Akan Menjadi Reformasi 1998 jilid 2?

Setelah kematian Affan, banyak pihak mempertanyakan apakah Indonesia sedang berada di ambang peristiwa seperti Reformasi 1998 gelombang protes yang menggulingkan rezim otoriter dan merombak sistem.

Meskipun sejumlah pengamat melihat kemiripan dramatis rasa marah publik yang bercampur kecemasan struktural namun sejauh ini belum terbentuk gerakan terstruktur dengan arah politik jelas seperti 1998.

Protes-protes tahun ini, termasuk dari kalangan mahasiswa, buruh, serta kelompok sipil. Merefleksikan keresahan sistemik dari Revisi UU TNI, lonjakan pajak PBB, hingga aspirasi ekonomi rakyat. Kematian Affan menjadi titik api emosional, potensi pengikat solidaritas multi-elompok yang bisa memicu tuntutan reformasi lebih luas. Namun prosesnya masih cair dan belum terpusat.

Manfaatkan juga waktu anda untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi tentang semua informasi viral terupdate lainnya hanya di VIEWNEWZ.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari monitor.co.id
  • Gambar Kedua dari tirto.id

Similar Posts