Iran Bisa Balik Menyerang? Ini Risiko bagi Negara yang Terlibat dalam ‘Perang Ekonomi’ AS
Iran mengancam negara yang mendukung “perang ekonomi” AS saat tekanan terhadap Teheran meningkat dan ketegangan di kawasan Teluk terus memanas.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyebut negara yang membantu menerapkan pembatasan ekonomi terhadap Iran sebagai musuh. Ia bahkan membuka kemungkinan Iran menyerang kepentingan negara tersebut jika mereka tetap bekerja sama dengan Washington. Simak ulasan lengkapnya dariVIEWNEWZ.
Iran Mulai Kirim Sinyal Ancaman Balasan
Rezaei menegaskan Iran tidak ingin memperluas perang. Namun, ia memperingatkan bahwa negara-negara di sekitar Iran bisa menghadapi konsekuensi jika ikut menjalankan tekanan ekonomi Amerika Serikat.
“Kami tidak mencari perluasan perang, tetapi jika negara-negara di sekitar Iran bergabung dengan Amerika dalam perang ekonomi, kami akan menyerang kepentingan mereka,” kata Rezaei sebagaimana dikutip IRIB.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Teheran tidak hanya melihat sanksi sebagai persoalan ekonomi. Iran juga melihat kerja sama negara-negara kawasan dengan Washington sebagai bagian dari tekanan yang lebih luas terhadap negaranya.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Selat Hormuz Bisa Jadi Titik Paling Panas
Salah satu ancaman terbesar berkaitan dengan jalur ekspor minyak dari kawasan Teluk. Rezaei memperingatkan bahwa Iran dapat menghambat arus minyak jika negara-negara tetangga ikut membantu kampanye ekonomi Amerika.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena jalur sempit tersebut memiliki posisi penting dalam perdagangan energi dunia. Gangguan di kawasan ini dapat membuat pasar minyak bereaksi cepat dan mendorong kenaikan harga energi.
Lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz juga mengalami penurunan tajam di tengah ketegangan saat ini. Jika situasi semakin buruk, gangguan terhadap distribusi minyak dapat memberi tekanan baru bagi perekonomian global.
Baca Juga: Iran Ingin Akhiri Perang dengan AS, Tapi Pezeshkian Pasang Satu Syarat Penting
Bagaimana Iran Bisa Melakukan Balasan?
Menurut analisis yang dikutip Al Jazeera, Iran kemungkinan tidak langsung mengambil langkah militer. Teheran dapat memulai dengan jalur diplomasi dan meminta negara-negara yang bekerja sama dengan Amerika untuk menjauh dari kampanye ekonomi Washington.
Jika pendekatan tersebut gagal, Iran berpotensi menekan kepentingan ekonomi negara yang dianggap membantu Amerika. Targetnya juga tidak harus berupa wilayah negara tersebut, tetapi bisa menyasar kepentingan bisnis, perdagangan, maupun jalur distribusi energi.
Jalur alternatif di luar Selat Hormuz juga menjadi perhatian. Rute melalui Laut Merah dan Bab al-Mandeb dapat terkena dampak jika konflik meluas. Kondisi itu tentu akan memperbesar risiko bagi perdagangan energi dan pelayaran internasional.
Negara Teluk Terjebak di Posisi Serba Sulit
Ancaman Iran membuat negara-negara Teluk menghadapi pilihan yang tidak mudah. Mereka memiliki hubungan keamanan yang kuat dengan Amerika Serikat, tetapi kedekatan geografis dengan Iran membuat mereka harus menghitung risiko secara hati-hati.
Uni Emirat Arab, misalnya, telah menghentikan perdagangan dan transaksi keuangan dengan Iran setelah menuduh Teheran melakukan serangan rudal. Iran membantah tuduhan tersebut.
Sementara itu, Arab Saudi dan Iran sempat memulihkan hubungan diplomatik melalui kesepakatan yang dimediasi China pada 2023. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa negara kawasan masih membutuhkan jalur komunikasi dengan Teheran meski memiliki kepentingan keamanan yang berbeda.
Diplomasi Masih Bisa Mencegah Konflik Meluas
Ancaman Iran muncul ketika Amerika Serikat bersiap mengumumkan sanksi baru untuk memperketat tekanan terhadap perekonomian Iran. Teheran menolak strategi tersebut dan menilai tekanan ekonomi tidak akan membuat Iran menyerah.
Meski retorika semakin keras, peluang diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut sebuah memorandum dengan Amerika Serikat dapat membantu mengakhiri kondisi “tidak perang, tidak damai” yang berlangsung cukup lama.
Pakistan juga mencoba mengambil peran sebagai mediator. Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, dijadwalkan mengunjungi Teheran pada Senin (24/8/2026) untuk mendukung upaya perdamaian dan keamanan kawasan.
Karena itu, ancaman Iran belum otomatis berarti serangan akan terjadi. Namun, jika tekanan ekonomi terus meningkat dan jalur diplomasi gagal, risiko gangguan terhadap kepentingan ekonomi serta perdagangan energi kawasan bisa semakin besar.
