Sanksi Baru AS Bikin Iran Geram, Disebut “Terorisme Ekonomi”

Hubungan Iran-AS kembali memanas setelah Washington menjatuhkan sanksi baru, sementara Teheran mengecamnya sebagai bentuk terorisme ekonomi dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sanksi Baru AS Bikin Iran Geram, Disebut “Terorisme Ekonomi”

Pernyataan itu muncul pada Kamis, 20 Agustus 2026, setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan sanksi yang disebut sebagai salah satu langkah paling berat terhadap Iran. Teheran menilai kebijakan tersebut bukan sekadar tekanan ekonomi, tetapi bagian dari permusuhan panjang Washington terhadap rakyat Iran. Simak ulasan lengkapnya dari VIEWNEWZ.

NONTON GRATIS LIVE STREAMING STADIONLIVE
NONTON GRATIS LIVE STREAMING SHOTSGOAL

Iran Kecam Keras Sanksi Baru Washington

Kementerian Luar Negeri Iran menilai Amerika Serikat sengaja memilih waktu tertentu untuk mengumumkan paket sanksi tersebut. Teheran mengaitkan keputusan Washington dengan peringatan kudeta Iran pada 1953 yang melibatkan Amerika Serikat dan Inggris.

Menurut pemerintah Iran, momentum tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan Washington masih membawa jejak konflik lama. Iran bahkan menyebut sanksi terbaru sebagai kelanjutan dari “permusuhan Washington selama 73 tahun terhadap rakyat Iran”.

Teheran memandang tekanan ekonomi sebagai salah satu instrumen utama Amerika Serikat untuk memengaruhi kebijakan Iran. Pemerintah Iran juga berulang kali menolak tekanan semacam itu dan menyatakan akan mencari cara untuk mengurangi dampaknya.

POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL

🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal.

Download Aplikasi Shotsgoal - Live Streaming Piala Dunia 2026
📲 DOWNLOAD SEKARANG

AS Sebut Sanksi Ini Sangat Berat

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan paket sanksi baru tersebut dengan menyebutnya sebagai sanksi “paling berat” yang pernah Washington jatuhkan terhadap Iran.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat masih mengandalkan tekanan ekonomi dalam menghadapi Teheran. Washington menggunakan sanksi untuk menekan sumber pendapatan dan aktivitas ekonomi yang dianggap mendukung kepentingan Iran.

Langkah tersebut tentu membawa konsekuensi lebih luas bagi hubungan kedua negara. Ketegangan politik yang sudah berlangsung lama dapat kembali memengaruhi perdagangan, sektor energi, transaksi keuangan, hingga hubungan Iran dengan negara-negara lain.

Iran sendiri melihat kebijakan tersebut dari sudut pandang berbeda. Teheran menganggap sanksi sebagai bentuk tekanan terhadap masyarakat dan ekonomi nasional, bukan sekadar alat diplomasi terhadap pemerintah.

Baca Juga: Sindikat Meterai Palsu Terbongkar! 16 Orang Jadi Tersangka, Modusnya Terungkap

Ghalibaf Minta Iran Siapkan Strategi

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf ikut merespons kebijakan terbaru Washington. Ia meminta pemerintah Iran menyusun rencana untuk menghadapi apa yang ia sebut sebagai “sanksi kejam”.

Ghalibaf menyampaikan pernyataan tersebut saat melakukan kunjungan ke Irak. Ia menilai negara-negara Muslim perlu memperkuat kerja sama untuk menghadapi tekanan dari pihak yang dianggap sebagai musuh.

Menurut Ghalibaf, sumber daya alam dan bahan mentah di negara-negara Muslim menjadi salah satu alasan munculnya kepentingan dari pihak luar. Karena itu, ia mendorong Iran memiliki strategi yang lebih kuat agar dapat menghadapi tekanan ekonomi.

“Kita harus menyusun rencana menghadapi sanksi kejam,” ujar Ghalibaf dalam pernyataan yang disampaikan melalui saluran Telegram miliknya.

Iran Dorong Kerja Sama dengan Irak

Dalam kunjungannya ke Irak, Ghalibaf juga menyerukan kerja sama lebih erat antara Baghdad dan Teheran. Ia menyampaikan ajakan tersebut di tengah situasi konflik dan tekanan yang dihadapi Iran.

Hubungan Iran dan Irak memiliki kepentingan strategis yang cukup besar, terutama dalam bidang ekonomi, energi, keamanan, dan perdagangan lintas perbatasan. Karena itu, kerja sama kedua negara dapat membantu Iran menghadapi sebagian tekanan eksternal.

Ajakan tersebut juga menunjukkan upaya Teheran membangun dukungan regional. Ketika Amerika Serikat memperluas tekanan ekonomi, Iran membutuhkan hubungan yang kuat dengan negara-negara tetangga untuk menjaga jalur perdagangan dan aktivitas ekonominya.

Ketegangan AS-Iran Kembali Jadi Sorotan

Paket sanksi terbaru memperlihatkan bahwa hubungan Washington dan Teheran masih jauh dari kata stabil. Kedua pihak terus mempertahankan posisi masing-masing, sementara tekanan ekonomi menjadi salah satu titik utama perselisihan.

Bagi Amerika Serikat, sanksi menjadi alat untuk memberikan tekanan terhadap kebijakan Iran. Sebaliknya, pemerintah Iran menilai kebijakan tersebut sebagai tindakan bermusuhan yang merugikan masyarakat.

Respons keras dari Kementerian Luar Negeri Iran dan Ghalibaf menunjukkan bahwa Teheran tidak ingin menerima sanksi tersebut tanpa perlawanan politik. Iran kini perlu mencari strategi untuk menjaga ekonominya sekaligus mempertahankan hubungan dengan mitra regional.

Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada respons kedua negara serta sikap negara-negara lain yang memiliki hubungan ekonomi dengan Iran. Jika tekanan terus meningkat, isu sanksi berpotensi kembali menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah.

Similar Posts