Iran Ingin Akhiri Perang dengan AS, Tapi Pezeshkian Pasang Satu Syarat Penting
Presiden Iran Masoud Pezeshkian ingin perang dengan AS segera berakhir, namun menegaskan Teheran harus tetap berada dalam posisi kuat dan bermartabat.
Pernyataan tersebut muncul ketika pemerintah Iran juga membela hasil kesepakatan terbaru dengan Washington. Pezeshkian menyebut hasil negosiasi sebagai pencapaian besar yang mendapat dukungan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Simak ulasan lengkapnya dari VIEWNEWZ.
Pezeshkian Sebut Hasil Negosiasi sebagai Pencapaian Besar
Dalam sebuah acara, Pezeshkian menilai proses negosiasi telah menghasilkan sesuatu yang penting bagi Iran. Ia mengatakan anggota dewan yang terlibat langsung dalam pembahasan juga memberikan dukungan kuat terhadap hasil tersebut.
“Apa yang dicapai selama negosiasi merupakan prestasi besar,” ujar Pezeshkian, menurut pernyataan dari kantor kepresidenan Iran.
Ia menggambarkan kesepakatan itu sebagai sesuatu yang terhormat dan berharga. Pezeshkian juga membantah anggapan bahwa Teheran memberikan terlalu banyak konsesi kepada Washington.
Menurutnya, isi kesepakatan tidak menunjukkan tanda-tanda Iran menyerah. Ia menegaskan seluruh komitmen dalam kesepakatan justru berkaitan dengan pihak lawan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Iran Tak Mau Tunduk Jika AS Kembali Menyerang
Meski membuka jalan untuk mengakhiri perang, Pezeshkian tetap menunjukkan sikap keras terhadap kemungkinan serangan berikutnya. Ia menegaskan Iran tidak akan tunduk pada tekanan atau intimidasi dari pihak mana pun.
“Dalam keadaan apa pun, kami tidak akan tunduk pada tindakan intimidasi,” tegas Pezeshkian.
Ia bahkan menegaskan pasukan Iran siap memberikan perlawanan jika konflik kembali pecah. Sikap tersebut menunjukkan bahwa Teheran ingin mengakhiri perang tanpa mengorbankan posisi politik maupun keamanan negaranya.
Bagi Pezeshkian, perdamaian bukan berarti Iran harus menerima tekanan dari Washington. Ia ingin proses tersebut berjalan dari posisi yang menurutnya tetap kuat.
Baca Juga: Sanksi Baru AS Bikin Iran Geram, Disebut “Terorisme Ekonomi”
Presiden Iran Ingin Perang Berakhir Saat Teheran Kuat
Pezeshkian kemudian menyampaikan pesan utama dalam pernyataannya. Ia melihat kondisi saat ini sebagai kesempatan untuk menghentikan konflik sebelum perang menimbulkan kerugian yang lebih besar.
“Lebih baik mengakhiri perang hari ini, saat kita berada dalam posisi yang kuat dan bermartabat,” ujarnya.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Teheran tidak ingin perang berlangsung tanpa batas. Iran tampaknya ingin memanfaatkan momentum negosiasi untuk mencari jalan keluar, tetapi tetap mempertahankan kepentingan nasional.
Pezeshkian juga menyoroti serangan yang menurutnya telah melanggar aturan internasional. Ia menyebut sekolah, rumah sakit, dan sejumlah infrastruktur Iran ikut menjadi sasaran.
Militer Iran Tetap Siaga di Tengah Upaya Damai
Di tengah dorongan untuk mengakhiri perang, Pezeshkian memastikan komandan militer dan angkatan bersenjata Iran tetap berada dalam kondisi siaga. Pemerintah tidak ingin proses diplomasi membuat pertahanan negara kehilangan kesiapan.
Ia juga meminta masyarakat menjaga persatuan di dalam negeri. Menurutnya, kekuatan Iran tidak hanya bergantung pada kemampuan militernya, tetapi juga pada soliditas masyarakat ketika menghadapi tekanan dari luar.
Langkah tersebut memperlihatkan pendekatan ganda Teheran. Di satu sisi, Iran membuka ruang untuk negosiasi. Di sisi lain, pemerintah tetap menyiapkan pertahanan jika situasi kembali memburuk.
MoU Iran-AS Buka Jalan untuk Negosiasi 60 Hari
Iran dan Amerika Serikat sebelumnya menandatangani nota kesepahaman atau MoU yang terdiri dari 14 poin di Islamabad pada 18 Juni. Pakistan dan Qatar berperan sebagai mediator dalam proses tersebut.
Kesepakatan itu mencakup penghentian perang serta masa negosiasi selama 60 hari. Kedua pihak kemudian diharapkan memanfaatkan periode tersebut untuk mencari kesepakatan akhir yang dapat meredakan konflik.
Namun, perjalanan kesepakatan tidak berjalan mulus. Teheran menuduh Washington melanggar nota kesepahaman yang telah mereka sepakati. Di sisi lain, Pakistan dan Qatar terus menjalankan upaya mediasi agar kedua pihak kembali membuka ruang komunikasi.
Sikap Pezeshkian menunjukkan Iran masih melihat diplomasi sebagai salah satu jalan untuk mengakhiri perang. Namun, Teheran ingin proses tersebut berjalan tanpa tekanan dan tanpa membuat negara berada dalam posisi yang dianggap lemah. Kini, keberhasilan mediasi akan menjadi salah satu faktor penting untuk menentukan apakah konflik Iran-AS benar-benar bisa memasuki babak baru.
