Pemilu Tegang di Uganda: Internet Padam, Oposisi Ditekan
Situasi pemilu politik di Uganda semakin tegang menjelang pemilihan umum yang diadakan pertengahan Januari 2026.
Negara di Afrika Timur ini menghadapi salah satu momen paling kontroversial dalam proses demokrasi yang berlangsung selama beberapa dekade. Presiden Yoweri Museveni, yang telah memimpin sejak 1986, berupaya memperpanjang masa jabatannya dengan mencari masa bakti kali ketujuh.
Tantangan serius datang dari oposisi, terutama dari tokoh populer Robert Kyagulanyi yang lebih dikenal sebagai Bobi Wine. Pemilu ini tidak hanya sekadar perebutan kekuasaan, tetapi menjadi cerminan ketidakpuasan banyak warga yang menginginkan perubahan, terutama dari generasi muda yang merasa terpinggirkan oleh pemerintahan yang berkuasa lama.
Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran VIEWNEWZ.
Pemutusan Akses Internet di Seluruh Negeri
Menjelang hari pemungutan suara, langkah paling mengejutkan yang diambil oleh otoritas adalah pemutusan akses internet secara nasional beberapa hari sebelum pemilu.
Komisi Telekomunikasi Uganda mengeluarkan perintah yang menyebabkan layanan internet dimatikan mulai malam hari dua hari sebelum pemungutan suara berlangsung.
Efeknya, sebagian besar sebagian besar akses publik ke layanan daring seperti media sosial, aplikasi pesan, situs berita, dan layanan umum lainnya menjadi tidak tersedia. Pemerintah menyatakan bahwa langkah ini diperlukan demi menekan penyebaran disinformasi dan menghindari ancaman keamanan saat pemilu berlangsung.
[wbcr_snippet]: PHP snippets error (not passed the snippet ID)
Penekanan Terhadap Aktivitas Oposisi Selama Kampanye
Sementara akses internet dibatasi, kelompok oposisi menghadapi berbagai tekanan serius dari aparat negara. Berbagai laporan menunjukkan bahwa pendukung tokoh-tokoh oposisi, termasuk kandidat populer yang dikenal sebagai Bobi Wine. Menghadapi pembubaran kampanye, penahanan massal aktivis. Serta pengawasan ketat di banyak wilayah.
Sejumlah pengamat dan lembaga hak asasi manusia menyatakan bahwa penggunaan kekuatan oleh aparat terhadap para pendukung oposisi menciptakan rasa takut yang meluas di kalangan masyarakat sipil.
Laporan ini sejalan dengan kekhawatiran internasional tentang pembungkaman suara-suara kritis menjelang pemungutan suara. Yang merupakan momen penting bagi masa depan politik Uganda.
Baca Juga: Pemerintah Belanda, Tetapkan Darurat Nasional 72 Jam Tanpa Listrik
Kritik Dari Organisasi Internasional
Keputusan untuk memutus internet mendapat kecaman dari berbagai organisasi internasional yang menilai hal itu merampas kebebasan berekspresi dan menghambat transparansi proses pemilu.
Human Rights Watch menyatakan bahwa langkah pemutusan jaringan internet selama pemilu adalah pelanggaran terhadap hak fundamental untuk mengakses informasi dan berkomunikasi secara bebas.
Peneliti hak digital menekankan bahwa akses informasi sangat penting menjelang pemilihan umum untuk memastikan para pemilih dapat membuat keputusan berdasarkan fakta, bukan sekadar informasi yang dibatasi pemerintah.
Kelompok internasional ini menyerukan agar layanan internet segera dipulihkan dan pemerintah Uganda menghormati komitmen-konstitusinya terhadap hak asasi.
Tekanan Terhadap Kelompok Oposisi
Pemilu di Uganda tidak hanya ditandai oleh pembatasan akses digital. Tetapi juga oleh tekanan nyata terhadap para pendukung oposisi. Sepanjang kampanye, aparat keamanan dilaporkan membubarkan pertemuan pendukung Bobi Wine, menangkap sejumlah massa. Serta melepaskan gas air mata dan peluru karet dalam beberapa insiden.
Organisasi internasional seperti United Nations Human Rights Office mencatat adanya “represi luas dan intimidasi” terhadap pihak oposisi. Pembela hak asasi manusia, jurnalis. Serta warga yang menyuarakan pendapat berbeda selama periode pemilu.
Oposisi melihat situasi ini sebagai bagian dari upaya sistemik untuk mempertahankan kekuasaan. Bobi Wine berkali-kali menyatakan bahwa kondisi politik saat ini serupa dengan “perang” karena rezim yang berkuasa memakai segala cara untuk mengekang suara-suara kritis.
Penahanan sejumlah tokoh oposisi dan pembatasan terhadap kegiatan politik dianggap mencederai prinsip-prinsip demokrasi yang adil dan bebas. Ikuti selalu informasi menarik dari kami setiap hari, dijamin terupdate dan terpercaya, hanya di VIEWNEWZ.
