China Hukum Mati 11 Anggota Keluarga Mafia, Raup Rp23 Triliun
Pengadilan China telah menjatuhkan hukuman mati kepada 11 anggota keluarga mafia terkenal yang mengelola pusat-pusat bisnis penipuan di Myanmar.

Keluarga tersebut, dikenal sebagai keluarga Ming, berhasil meraup sekitar Rp23 triliun dari bisnis kriminal mereka.
Mereka dinyatakan bersalah atas serangkaian kejahatan serius, termasuk penipuan telekomunikasi, perjudian ilegal, perdagangan manusia, dan pembunuhan.
Selain itu, lima anggota lainnya dijatuhi hukuman mati dengan masa percobaan dua tahun, 11 orang dipenjara seumur hidup, dan 12 lainnya menerima hukuman penjara antara lima hingga 24 tahun. Total 39 anggota keluarga Ming diadili dalam kasus ini.
Dibawah ini anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran VIEWNEWZ.
Hukuman Tegas Untuk Keluarga Ming
Pengadilan China telah menjatuhkan hukuman mati kepada 11 anggota keluarga Ming, sebuah keluarga mafia yang mengendalikan sindikat penipuan.
Selain 11 hukuman mati, pengadilan di kota Wenzhou juga menjatuhkan hukuman mati dengan masa percobaan dua tahun kepada lima anggota lainnya.
Sebanyak 11 orang dipenjara seumur hidup, dan sisanya menerima hukuman penjara mulai dari lima hingga 24 tahun. Total 39 anggota keluarga Ming dinyatakan bersalah melakukan kegiatan kriminal dan dijatuhi hukuman pada hari Senin oleh pengadilan di Wenzhou.
Vonis berat ini menunjukkan sikap tegas pemerintah China dalam menindak sindikat yang merugikan jutaan orang melalui praktik penipuan online lintas negara.
Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Sindikat keluarga Ming di Kokang, Myanmar, terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia yang serius, termasuk perdagangan manusia, penyiksaan, dan pembunuhan.
Para pekerja yang direkrut dengan janji pekerjaan layak dipaksa bekerja di pusat penipuan daring dan dijadikan tahanan ilegal. Beberapa korban yang mencoba melarikan diri bahkan ditembak mati oleh sindikat ini.
Kasus paling mencolok adalah insiden pada Oktober 2023, di mana empat orang tewas dan empat lainnya luka-luka akibat ditembak oleh kelompok Ming saat berusaha melarikan diri.
Selain itu, pusat penipuan seperti “Crouching Tiger Villa” dikenal sebagai tempat penyiksaan dan pemukulan terhadap para pekerja yang dianggap tidak patuh.
Baca Juga:
Kriminal Keluarga Ming di Myanmar

Keluarga Ming, sebuah sindikat kriminal yang beroperasi di wilayah Kokang, Myanmar. Dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Rakyat Menengah Wenzhou di China pada 29 September 2025.
Sebanyak 11 anggota keluarga tersebut dihukum mati, sementara lima lainnya dijatuhi hukuman mati dengan masa percobaan dua tahun, dan 12 orang lainnya menerima hukuman penjara antara lima hingga 24 tahun.
Sindikat ini dikenal luas karena terlibat dalam berbagai kejahatan serius, termasuk penipuan telekomunikasi, perjudian ilegal, perdagangan manusia, dan pembunuhan.
Sejak 2015, keluarga Ming mengoperasikan lebih dari 300 pusat penipuan di Myanmar, yang dikenal sebagai “scam centers,” di mana lebih dari 100.000 orang, termasuk banyak warga negara asing, dipaksa bekerja dalam kondisi yang sangat buruk.
Para pekerja tersebut direkrut dengan janji pekerjaan yang layak, namun setelah tiba di lokasi, mereka dipaksa untuk melakukan penipuan daring dan dijadikan tahanan ilegal. Beberapa korban yang mencoba melarikan diri bahkan ditembak mati oleh sindikat ini.
Penangkapan dan Ekstradisi ke China
Pada November 2023, otoritas Myanmar berhasil menangkap Ming Xuechang. Pemimpin utama sindikat penipuan keluarga Ming, bersama beberapa anggota keluarganya.
Penangkapan ini terjadi setelah kelompok pemberontak merebut wilayah Kokang, tempat operasi sindikat tersebut. Ming Xuechang meninggal dalam tahanan polisi Myanmar, dengan klaim resmi menyebutkan bahwa ia bunuh diri.
Namun, beberapa laporan menyebutkan bahwa ia meninggal karena penyiksaan atau kondisi medis yang buruk. Setelah penangkapan, Myanmar menyerahkan Ming Xuechang dan beberapa anggota sindikat lainnya kepada pihak berwenang China.
Proses ekstradisi ini mencerminkan kerjasama antara kedua negara dalam menangani kejahatan lintas negara. Namun, beberapa pihak mengkritik kurangnya transparansi dalam proses ekstradisi ini.
Manfaatkan juga waktu anda untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi tentang semua informasi viral terupdate lainnya hanya di VIEWNEWZ.
- Gambar Pertama dari www.detik.com
- Gambar Kedua dari www.suaramerdeka.com
