Iran Pamer Rudal Ganas, Eksekutor Doktrin Preemptive: ‘Hantam Musuh sebelum Menyerang’
Iran pamer rudal balistik baru di tengah ketegangan Timur Tengah, senjata itu dikaitkan dengan doktrin preemptive untuk menghadapi ancaman sebelum serangan terjadi.
Laporan kantor berita pemerintah Iran mengutip pernyataan Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei. Dalam pernyataannya yang tayang di televisi pemerintah sehari sebelumnya, Rezaei menyebut rudal tersebut sudah menjalani pengujian terhadap kapal perang Amerika Serikat (AS).
Namun, belum ada kepastian apakah rudal yang menjalani pengujian itu merupakan Qassem Basir yang menggunakan bahan bakar padat. Simak ulasan lengkapnya dari VIEWNEWZ.
Iran Ungkap Rudal Qassem Basir
Iran menggambarkan Qassem Basir sebagai bagian penting dari strategi pertahanannya. Laporan media pemerintah menyebut rudal tersebut memiliki jangkauan dan tingkat akurasi yang lebih besar. Rudal itu juga membawa hulu ledak dengan bobot sekitar setengah ton.
Iran memperkenalkan rudal tersebut pada tahun lalu dan saat itu menyebut jangkauannya mencapai sedikitnya 1.200 kilometer atau sekitar 745 mil. Kemampuan tersebut membuat sistem rudal balistik Iran kembali mendapat perhatian, terutama ketika ketegangan antara Teheran dan Washington meningkat.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Doktrin Preemptive Iran Jadi Sorotan
Pernyataan terbaru pejabat Iran memperlihatkan perubahan nada dalam pesan militernya. Teheran menegaskan bahwa mereka ingin menghadapi ancaman sebelum lawan melancarkan serangan. Konsep tersebut dikenal sebagai doktrin preemptive atau serangan pendahuluan.
Rezaei bahkan menyebut rudal baru itu sebagai salah satu titik balik dalam strategi pertahanan Iran. Pernyataan tersebut muncul setelah Iran dan AS saling melancarkan serangan dalam konflik yang berlangsung selama beberapa bulan.
Baca Juga: AS Terus Menyerang, Iran Siap Balas “Lebih Menyakitkan”: Situasi Makin Memanas!
Rudal Iran Mengarah ke Kapal Perang AS
Pada Sabtu, Amerika Serikat menyatakan bahwa Iran meluncurkan rudal balistik ke arah kapal induk dan kapal perang AS. Washington kemudian merespons dengan menyerang tiga kapal tanker minyak Iran.
Sejumlah pakar menilai perkembangan tersebut sebagai eskalasi yang berbahaya. Mereka melihat perubahan sasaran sebagai hal penting karena selama enam bulan perang, serangan Iran di laut sebelumnya lebih banyak menyasar kapal komersial. Militer AS juga menyatakan kapal perangnya berhasil menghindari serangan rudal tersebut.
Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Panas
Ketegangan juga menjalar ke Selat Hormuz, salah satu jalur penting bagi lalu lintas kapal dan perdagangan energi dunia. Rezaei mengumumkan rencana Iran untuk membuat zona eksklusi di sekitar selat bagi kapal yang mencoba melintas.
Gedung Putih menolak klaim tersebut dan menyatakan jalur perairan itu tetap terbuka serta berada di bawah kendali AS. Washington juga mengatakan Angkatan Laut AS telah membersihkan ranjau di Selat Hormuz. Menurut AS, langkah tersebut akan membantu meningkatkan kembali lalu lintas kapal tanker menuju pelabuhan non-Iran.
Lalu Lintas Kapal di Hormuz Menurun Tajam
Blokade AS terhadap pelabuhan Iran masih berlangsung sebagai bagian dari tekanan ekonomi terhadap Teheran. Washington berupaya membatasi ekspor minyak Iran melalui kebijakan tersebut. Militer AS menyatakan telah mengalihkan 94 kapal komersial dan melumpuhkan tiga kapal hingga Senin.
Di sisi lain, Teheran meminta kapal mengikuti rute yang mereka tentukan ketika melintasi Selat Hormuz. Rezaei mengakui AS membantu sejumlah kapal melewati rute di lepas pantai Oman. Ia mengatakan Iran tidak menenggelamkan kapal tersebut karena muatannya berupa minyak dan berpotensi menimbulkan masalah lingkungan.
Perbedaan klaim antara Iran dan AS membuat kondisi pelayaran di kawasan tersebut semakin tidak menentu. Perusahaan informasi perdagangan global Kpler juga mencatat penurunan tajam lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz pada pekan lalu. Situasi ini menunjukkan bahwa ketegangan militer tidak hanya berdampak pada hubungan kedua negara, tetapi juga mulai memengaruhi jalur perdagangan laut yang sangat penting bagi kawasan Timur Tengah.
