Update Pascabencana Banjir dan Longsor di Sumatra, Indonesia
Sejak akhir November 2025, 2025 Sumatra floods and landslides telah membawa dampak dahsyat bagi wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kini menghadapi krisis kemanusiaan setelah banjir bandang dan longsor hebat banyak rumah hancur atau rusak parah, jembatan serta jalur akses utama terputus, sehingga beberapa komunitas menjadi terisolasi.
Dibawah ini Anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran VIEWNEWZ.
Situasi Terkini Setelah Banjir di Sumatra
Banjir bandang dan longsor terjadi akibat hujan deras yang diperparah oleh fenomena cuaca ekstrem termasuk pembentukan Cyclone Senyar di Selat Malaka, meskipun lokasi itu biasanya jarang dilanda siklon tropis.
Kondisi ini memicu aliran air deras dan longsor di kawasan perbukitan. Menyebabkan sungai meluap dan lereng tanah ambles, lalu menyerang permukiman serta infrastruktur. Menurut data terkini, korban tewas akibat bencana ini telah mencapai 836 jiwa. Selain itu, ratusan orang masih hilang dan ribuan lainnya terluka.
Dampaknya sangat luas lebih dari satu juta orang harus mengungsi, dan jutaan orang lainnya terdampak secara langsung maupun tidak langsung. Infrastruktur vital seperti jalan, jembatan, dan jaringan listrik banyak rusak sementara beberapa desa bahkan terisolasi karena akses terputus.
Sejak akhir November 2025, 2025 Sumatra floods and landslides telah membawa dampak dahsyat bagi wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ayo Kawal Timnas Menuju Piala Dunia - Link Aplikasi Nonton Timnas Indonesia GRATIS! Segera download! APLIKASI SHOTSGOAL
![]()
Upaya Penanganan dan Pemulihan Infrastruktur
Pemerintah pusat dan daerah bereaksi cepat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Bersama kementerian terkait. Segera melaksanakan operasi tanggap darurat dan pemulihan infrastruktur.
Menurut pernyataan Pratikno selaku Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Pemerintah tengah mempercepat rekonstruksi jalan, jembatan, dan penyediaan energi listrik di wilayah terdampak.
Selain itu, bantuan kemanusiaan seperti makanan, air bersih, dan obat-obatan terus didistribusikan. Terutama ke desa-desa yang sempat terisolasi. Di beberapa titik, akses logistik dilakukan lewat udara karena jalur darat tertutup longsor atau banjir.
Baca Juga: Thailand Beri Bantuan Rp1 Miliar Untuk Korban Banjir, Indonesia Hanya Rp15 JT
Tuntutan Status Bencana Nasional

Pihak-pihak dari masyarakat sipil, aktivis lingkungan. Maupun sejumlah politisi terus mendesak agar pemerintah segera menetapkan peristiwa banjir dan longsor di Sumatra khususnya di provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai Bencana Nasional.
Dorongan ini muncul karena dampak bencana telah meluas jauh melampaui kapasitas penanganan pemerintah daerah banyak wilayah yang mengalami kerusakan infrastruktur berat, isolasi komunitas, krisis logistik. Hingga jutaan warga terdampak sehingga bantuan dan koordinasi pusat dipandang sebagai keharusan agar penanganan bisa lebih cepat dan menyeluruh.
Mereka berargumen bahwa dengan status Bencana Nasional. Pemerintah pusat bisa mengambil alih koordinasi dan akses sumber daya logistik, pendanaan, tim penyelamat. Serta mekanisme rehabilitasi besar-besaran dengan lebih efektif.
Selain itu, penetapan status ini juga menjadi bentuk pengakuan terhadap skala kerusakan ekologis serta kegagalan tata ruang dan pengelolaan lingkungan yang berkontribusi pada tragedi ini sehingga pemulihan tak hanya bersifat sementara. Tetapi juga menjadi momentum untuk evaluasi kebijakan termasuk izin kehutanan, pemanfaatan lahan, serta restorasi lingkungan di hulu DAS.
Dampak Sosial dan Kesehatan
Selain kerusakan fisik, bencana ini juga menimbulkan dampak sosial dan kesehatan yang serius. Banyak masyarakat yang mengeluhkan penanganan pemerintah yang belum maksimal.
Mulyani, warga Langsa, Aceh, menyebut tidak ada titik pengungsian dan dapur umum yang jelas. Sehingga warga harus mendirikan dapur swadaya. Stok bahan pokok menipis dan harga melonjak. Dengan sekarung beras 10 kg dijual seharga Rp500.000 di Aceh dan Aceh Tengah.
Di Aceh Tengah, 98 kampung masih terisolir dan terancam kelaparan karena bahan pangan menipis. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat bahwa anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap berbagai masalah kesehatan seperti diare, penyakit kulit, campak, ISPA, leptospirosis, dan demam berdarah.
Hal ini diperparah dengan tingkat capaian imunisasi dasar lengkap (IDL) yang masih jauh di bawah target nasional di Sumatera Barat dan Aceh.
Simak dan ikuti terus berbagai informasi berita-berita terbaru dan update menarik lainnya hanya di VIEWNEWZ.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari www.detik.com
- Gambar Kedua dari www.bbc.com

