Tragis! Baru 3 Bulan Kerja di Armenia, TKI Asal Maros Tewas Mengenaskan di Kamar
TKI asal Maros Valenth Alexie Tamboto meninggal dunia di Armenia setelah polisi menduga adanya tindak pembunuhan usai korban baru tiga bulan bekerja di luar negeri.
Valenth baru menjalani pekerjaan di Republik Armenia selama tiga bulan sebelum mengalami peristiwa tragis tersebut. Kabar kematiannya membuat keluarga dan warga kampung halaman merasa terpukul karena Valenth pergi ke luar negeri untuk mencari penghasilan.
Valenth Mengalami Nasib Tragis di Tempat Tinggalnya
Valenth ditemukan dalam kondisi mengenaskan di kamar mes atau tempat penginapan yang ia tempati selama bekerja di Armenia. Saat itu, beberapa orang melihat kondisi korban yang mengalami luka serius pada tubuhnya.
Keluarga Valenth dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) menerima informasi bahwa pelaku diduga mengikat tangan, kaki, dan mulut korban menggunakan lakban. Tubuh Valenth juga mengalami luka hingga mengeluarkan banyak darah.
Polisi setempat kini mengumpulkan berbagai informasi untuk mengungkap penyebab kematian Valenth. Aparat masih mencari petunjuk terkait pelaku dan motif di balik kejadian tersebut.
Kabar Kematian Valenth Mengagetkan Warga Maros
Kabar meninggalnya Valenth menyebar luas dan membuat warga Desa Moncongloe Lappara, Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, merasa kehilangan.
Valenth berasal dari Dusun Rimau dan dikenal sebagai warga yang memilih bekerja di luar negeri demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kepergiannya ke Armenia awalnya membawa harapan bagi keluarga, tetapi kabar duka justru datang setelah beberapa bulan ia berada di sana.
Rumah keluarga Valenth tampak sepi ketika sejumlah warga datang untuk memberikan dukungan. Saat itu, keluarga korban berada di rumah kerabat mereka di Kota Makassar.
Kepala Desa Pastikan Valenth Warga Moncongloe
Kepala Desa Moncongloe Lappara, Sirajuddin, membenarkan kabar meninggalnya Valenth. Ia memastikan korban memang berasal dari wilayah tersebut sesuai data administrasi kependudukan.
Sirajuddin menjelaskan keluarga Valenth sudah tinggal di Moncongloe Lappara selama empat hingga lima tahun terakhir. Menurutnya, masyarakat mengenal Valenth sebagai pemuda asal daerah tersebut.
“Memang betul warga kami. KTP-nya juga di sini,” kata Sirajuddin saat memberikan keterangan mengenai kabar tersebut.
Baca Juga:Â Iran Makin Garang! Rudal Bidik Pangkalan di Kuwait dan Jet Tempur AS di Yordania
Perjalanan Kerja Valenth di Armenia Baru Berjalan Tiga Bulan
Sebelum mengalami kejadian tragis, Valenth baru memulai perjalanan kerja di Armenia selama kurang lebih tiga bulan. Ia memilih bekerja di luar negeri sebagai upaya untuk membantu kehidupan keluarganya.
Armenia merupakan negara yang berada di kawasan Kaukasus Selatan. Negara tersebut berbatasan dengan Turki, Georgia, Azerbaijan, dan Iran. Yerevan menjadi ibu kota sekaligus salah satu kota utama di negara itu.
Keputusan Valenth bekerja di Armenia menunjukkan keberaniannya mencari peluang baru. Namun, peristiwa yang menimpanya kini meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Pihak Terkait Terus Ungkap Misteri Kematian Valenth
Kasus kematian Valenth masih mendapatkan perhatian dari pihak terkait, termasuk KBRI yang terus berkoordinasi dengan otoritas Armenia untuk mengetahui perkembangan penyelidikan.
Keluarga berharap aparat dapat segera menemukan pelaku dan mengungkap alasan di balik kejadian tersebut. Mereka juga menunggu proses hukum berjalan hingga mendapatkan keadilan untuk Valenth.
Valenth merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga besar dan masyarakat Maros yang mengenalnya. Warga kini menantikan kabar terbaru mengenai penyelesaian kasus tersebut.
