Meja Runding Iran-AS Kembali Memanas? Teheran Masih Menimbang Langkahnya
Iran belum memastikan kembali berunding dengan AS, Menlu Abbas Araghchi menegaskan komunikasi lewat mediator belum berarti negosiasi Teheran-Washington dimulai lagi.
Pernyataan itu muncul ketika perhatian publik kembali tertuju pada hubungan Iran dan AS. Sejumlah pihak masih berharap kedua negara membuka jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan, tetapi Teheran tampaknya belum ingin mengambil keputusan terburu-buru. Simak ulasan lengkapnya dari VIEWNEWZ.
Iran Belum Pastikan Kembali ke Meja Perundingan
Araghchi mengatakan Iran masih mempertimbangkan langkah berikutnya. Kepada kantor berita Iran, ISNA, pada Jumat (14/8/2026), ia menjelaskan bahwa Qatar dan Pakistan masih membantu menyampaikan pesan antara Iran dan pihak lain.
Namun, komunikasi tersebut belum bisa disebut sebagai perundingan. Menurut Araghchi, Teheran belum mengambil keputusan untuk kembali berunding secara tidak langsung dengan Washington.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa Iran masih menjaga jarak dalam hubungan diplomatik dengan AS. Teheran tampaknya ingin melihat perkembangan situasi sebelum menentukan apakah jalur negosiasi layak dibuka kembali.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Teheran Bantah Ada Gencatan Senjata 60 Hari
Araghchi juga membantah laporan mengenai kewajiban memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Ia merujuk pada Memorandum Islamabad yang menjadi kerangka pembicaraan damai antara Iran dan AS dengan mediasi Pakistan pada Juni.
Menurut Araghchi, dokumen tersebut membahas penghentian perang, bukan gencatan senjata yang berlaku selama 60 hari. Ia menilai AS telah melanggar kesepakatan tersebut sehingga pertempuran kembali berlangsung.
Karena itu, pemerintah Iran tidak melihat adanya gencatan senjata 60 hari yang harus diperpanjang. Araghchi menilai periode 60 hari dalam memorandum hanya memberikan waktu bagi kedua pihak untuk mencari kesepakatan akhir.
Perbedaan penafsiran ini menjadi salah satu persoalan yang dapat memengaruhi hubungan Iran dan AS. Masing-masing pihak perlu menyamakan kembali pemahaman sebelum membuka pembicaraan baru.
Baca Juga:Â Arab Saudi Gerakkan Aliansi Laut Merah, Houthi dan Iran Bakal Terdesak?
Qatar dan Pakistan Masih Jadi Penghubung Pesan
Meski belum membuka perundingan baru, Iran tetap berkomunikasi melalui mediator. Araghchi menyebut Qatar dan Pakistan masih aktif bertukar pesan dengan Teheran.
Jalur komunikasi tersebut menunjukkan bahwa pintu diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Namun, Iran ingin membedakan komunikasi dengan proses negosiasi resmi.
Posisi itu juga memberi ruang bagi Teheran untuk menyampaikan sikap tanpa harus langsung kembali ke meja perundingan. Jika situasi berubah dan kedua pihak menemukan titik temu, jalur komunikasi yang sudah tersedia dapat membantu membuka pembicaraan berikutnya.
Iran dan Oman Fokus Bahas Jalur Pelayaran
Di tengah ketegangan dengan AS, Iran tetap menjalankan pembicaraan teknis dengan Oman. Araghchi menjelaskan bahwa pembahasan tersebut tidak berkaitan dengan kemungkinan perundingan baru bersama Washington.
Iran dan Oman kini membahas rute pelayaran baru melalui kawasan Selat Hormuz. Menurut Araghchi, jalur sebelumnya sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini sehingga kedua negara perlu merancang rute sementara.
Para ahli dari Iran dan Oman ikut terlibat dalam pembahasan tersebut. Angkatan bersenjata Iran juga mengambil bagian dalam proses teknis yang berkaitan dengan jalur pelayaran.
Araghchi memperkirakan pembicaraan teknis itu dapat segera mencapai hasil. Setelah kedua pihak menentukan rute, mereka dapat menggunakannya sebagai dasar untuk pengaturan yang lebih permanen.
Nasib Selat Hormuz Masih Bergantung pada AS
Meski membahas rute baru, Araghchi menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak otomatis berarti Iran akan membuka kembali Selat Hormuz.
Menurutnya, penentuan jalur pelayaran hanya menyelesaikan persoalan teknis. Iran masih memiliki sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi Amerika Serikat sebelum mengambil keputusan mengenai pembukaan kembali selat tersebut.
Situasi ini membuat Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik penting dalam hubungan Iran dan AS. Jalur tersebut memiliki posisi strategis bagi lalu lintas perdagangan dan energi sehingga setiap perubahan kebijakan Iran dapat menarik perhatian dunia.
Untuk saat ini, Teheran memilih berhati-hati. Iran tetap membuka komunikasi melalui mediator dan menjalankan pembahasan teknis dengan Oman, tetapi belum memberikan lampu hijau untuk kembali berunding dengan Washington.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih tersedia, tetapi keputusan akhirnya bergantung pada perkembangan situasi dan langkah yang diambil Amerika Serikat.
